Berita

Siti Nurbaya Bakar/Net

Wawancara

WAWANCARA

Siti Nurbaya Bakar: Para Tim Ahli Temukan Indikasi Awal Pencemaran & Perusakan Lingkungan

JUMAT, 24 MARET 2017 | 09:13 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri asal Partai Nasional Demokrat ini mengung­kapkan, hingga kini Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pembangunan Semen Indonesia di daerah pegunun­gan Kendeng masih diproses oleh tim kementerian. Para ahli dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) masih membutuhkan data tam­bahan untuk membahas KLHS secara menyeluruh. Namun, hasil sementera, para ahli sudah menemukan adanya indikasi-indikasi kerusakan ataupun pencemaran lingkungan akibat adanya pembangunan pabrik Semen Indonesia. Berikut pe­nuturan lengkap Siti Nurbaya Bakar;

Hingga kini sudah sampai mana KLHS pembangunan pabrik Semen Indonesia di Kendeng?

Kalau yang Kendeng ini, posisi KLHS itu kan ada di pe­merintah daerah juga. Tapi kan seperti saya bilang, kewenangan proyek seperti itu penilaian Amdal di provinsi. Makanya dia berjalanlah izin lingkungan, tetapi kan ada masalah.

Lho ada masalah toh. Apa saja masalahnya?

Lho ada masalah toh. Apa saja masalahnya?
Di dalam Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup itu kan dijelaskan dalam hal persoalan, satu terjadi kerusakan lingkungan, kedua ada pencemaran, ketiga ada keresa­han sosial maka menteri harus turun, mendalami dan mengam­bil langkah-langkah.

Nah karena ada itu, apalagi demonstrasi itu kan langsung ke istana. Akhirnya Presiden bilang, lihat dong dulu bagaima­na, itu KLHS. Ketika mereka bertemu Bapak Presiden justru kata-kata KLHS itu muncul dari masyarakatnya.

Dulu strateginya bagaima­na, nah ini ada kaitannya juga dengan demo sebelumnya di wilayah sebelumnya, di mana mereka sudah mengerti bahwa ada strategi-strategi sebetulnya terkait dengan karst. Oleh karena itu, Presiden kan bilang, oke be­resin deh KLHS-nya, baru nanti kita putusin. Nah sekarang itu lagi kita beresin.

Lantas saat ini sudah sejauh mana?
Sekarang KLHS yang dibikin oleh ahli-ahli di super­visi oleh KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan KSP (Kantor Staf Kepresidenan) itu sedang bekerja. Para ahlinya lagi pada me­nyusun, mereka rapat sejak hari Senin dan ini akan diterusin sampai empat hari. Dalam diskusin­ya para ahli sudah menemukan indikasi-indikasi sebetulnya.

Indikasi-indikasinya apa saja itu?
Bahwa dilihat dari uji Q-max dan Q-min. Q itu artinya debit, debit maksimun dan debit min­imun. Itu kan kalau secara ilmu. Sama saja seperti temperatur. Pohonan itu kan ada titik toler­ansi terhadap suhu terendah dan suhu tertinggi. Suhu terendah itu kalau iklim Indonesia itu mun­cul di jam 2-3 pagi. Kalau suhu tertinggi kalau di kita itu jam 11, bukan jam 2. Artinya bumi lagi menyerap sekuat-kuatnya energi dari matahari dan pada jam 2-3 pagi, bumi lagi benar-benar me­mancarkan energinya. Makanya dingin. Air juga begitu, ada Q-maksimum dan Q-minimum. Nah pohonan ada derajat ter­tentu pada rentang ini. Kalau dia berubah, mati pohonnya. Sama ini di sungai juga begitu. Kalau berubah Q-max dan Q-min, mati. Kan air itu menetes dari karst itu, kan kalau kartsnya terganggu, daya tetesnya itu berkurang. Sehingga Q nya itu jadi rusak. Itu sebetulnnya teori-teori yang mereka bangun dan mereka pelajari.

Selain dari batuan karst, indikasi apa lagi yang ditemu­kan mengalami kerusakan?
Tim itu juga sudah pernah menguji dengan menaruh ga­ram di ujung sini, di ujung sana tiba-tiba terasa asinnya. Berarti ada aliran di situ. Kemudian in­dikasi lainnya adalah kelelawar, jadi kelelawar ini ada nggak, kelelawar yang ini ada nggak, kelelawar jenis itu ada nggak, nah kalau semakin berkurang berarti river kita terganggu. Sebab kelelawar itu kan binatang penyerbu.

Selain dari para ahli-ahli tersebut, data lainnya dari mana?
Indikasi-indikasi itu ada, makanya dengan indikasi yang ada, nanti ditambah lagi dengan data dan informasi yang ada. Apakah dari (Kementerian) ESDM nanti kalau misalnya Semen Indonesia mau menyerahkan datanya yang ka­tanya ada, saya rasa bagus sekali.

Anda sudah minta datanya dari Semen Indonesia?
Kita sudah minta datanya, tapi nggak pernah dapat dari Jawa Tengah. Jadi ya sudah, dengan da­ta yang ada. Itulah sebabnya saya minta ke Pak Jonan, untuk bisa dikirim data itu. Nah dari hasilnya mereka bekerja empat hari ini dan KLHS nya akan diselesaikan pada bulan Maret ini. Itu untuk yang cadangan air tanah waduk putih. Untuk seluruh pegunungan Kendengnya, itu nanti. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya