Berita

Kwik Kian Gie/Net

Wawancara

WAWANCARA

Kwik Kian Gie: Proyek Infrastruktur Harusnya Dibiayai APBN, Kok Malah Ditawarkan Ke Investor

KAMIS, 23 MARET 2017 | 10:08 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mengkritik strategi pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintahan Jokowi.

Menurut Kwik, seharusnya pembangunan infrastruktur di Indonesia dilakukan secara go­tong royong dan penggunaannya diberikan cuma-cuma kepada masyarakat. Bukan diobral kepa­da asing, sementara masyarakat pengguna diharuskan memba­yar jika ingin menggunakan infrastruktur tersebut. Berikut penuturan lengkap Kwik Kian Gie kepada Rakyat Merdeka:

Bagaimana Anda melihat kebijakan Presiden Jokowi dalam merealisasikan pem­bangunan infrastruktur?

Sekarang kan infrastruktur ini Pak Presiden Joko Widodo sangat mengandalkan pada in­vestasi asing. Nah investasi asingnya tidak langsung masuk, sebab investor atau pengusaha yang punya modal kalau mau menanamkan pada sesuatu, itu kan dia mesti memperoleh laba dan laba itu harus tinggi sesuai kemauannya dia.

Sekarang kan infrastruktur ini Pak Presiden Joko Widodo sangat mengandalkan pada in­vestasi asing. Nah investasi asingnya tidak langsung masuk, sebab investor atau pengusaha yang punya modal kalau mau menanamkan pada sesuatu, itu kan dia mesti memperoleh laba dan laba itu harus tinggi sesuai kemauannya dia.

Maksudnya...

Nah ukurannya laba yang cukup itu apa. Kalau dia punya modal dia pasti lihat, 'kalau saya invest infrastruktur di Indonesia dapat berapa', 'kalau saya invest pabrik makanan di Vietnam berapa'. Jadi infrastruktur diadu dengan barang. Jadi kalau perlu investor itu akan membanding­kan, 'kalau saya membangun pabrik BH di Vietnam lebih untung atau tidak?'. Jadi in­frastruktur diadu dengan barang macam-macam itu.

Jadi Anda mau mengata­kan sesungguhnya investasi di proyek infrastruktur itu kurang 'seksi' dibandingkan industri consumers goods?
Sebenarnya yang saya arti­kan adalah infrastruktur itu di mana-mana, diinvest dibuat oleh pemerintah dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk rakyat tanpa me­mungut bayaran. Di mana-mana kan seperti itu (tidak bayar), itu kan barang publik. Tapi di sini kok ditawarkan kepada investor swasta asing maupun domestik terutama asing dengan motif carilah laba dengan infrastruktur di Indonesia.

Karena itu tarifnya pemerintah kan harus membatasi, sebab ka­lau tarifnya dia dipasang tinggi, rakyatnya teriak. Tapi kalau tarifnya rendah maka laba yang akan diperoleh kurang. Makanya asing tidak datang-datang.

Saat ini kita kadung banyak mengalokasikan duit APBN untuk membangun proyek infrastruktur besar-besaran. Apa itu nanti menguntungkan tidak bagi kita?
Tergantung, jika nanti in­frastrukturnya jadi, misalnya kita ambil contoh seperti yang kita paham, jalan tol, tergan­tung. Jalan tol itu tarifnya bera­pa yang diatur pemerintah, nanti dia tinggal hitung, gampang sekali itu. Kalau tarif tol sekian, perkiraan yang akan digunakan sekian, saya dapat uang masuk sekian, biayanya sekian, menarik tidak. Kalau itu tidak menarik, saya tidak mau invest, karena di negara lain, di sektor lain lebih menguntungkan.

Dalam hal ini siapa yang diuntungkan kita atau inves­tornya?
Buat Investornya.

Lantas keuntungan apa yang didapat negara ini?
Indonesianya juga dapat ke­untungan karena ketambahan jalan.

Terus untuk rakyat yang tidak menikmati jalan itu?
Nah, akan tetapi jalan raya yang nyaman itu tidak mensejahterakan rakyat jelata. Sedangkan yang aneh, di Amerika sebagai negara yang kapitalis mereka menggratiskan jalan tol. Padahal mereka lebih paham dari kita soal pendapatan yang lebih penting untuk negara dan sebagainya.

Berarti, menurut Anda se­harusnya jalan tol di Indonesia itu gratis?
Menurut saya seharusnya tidak bayar. Sejak dulu seharus­nya tidak. Yang namanya barang publik itu seharusnya disediakan cuma-cuma. Pembiayaannya juga prinsip Indonesia, yakni gotong royong. Jadi pembiyaan yang paling dasar dari Indonesia adalah gotong royong. Kalau itu dibiayai dari pajak, itu kan na­manya gotong royong. Yang kuat bayar pajak lebih, yang kurang, kurang. Tetapi penggunaannya rata secara cuma-cuma.

Bagaimana dengan sektor lainnya?

Kalau sektor selain infrastruk­tur kita lihat sendiri seperti kon­sumsi real estate, semua swasta-swasta sudah besar-besaran baik asing maupun domestik.

Kenapa bisa lebih menarik ketimbang proyek pembangu­nan infrastruktur?
Karena di situ bebas. Di situ pembentukan harganya kom­petitif persaingan. Itu pun bela­kangan ini kan agak seret.

Kenapa?
Karena banyak komentar para investor itu banyak yang belum menentu, banyak yang belun menentu di Indonesia.

Yang membingungkan, men­cuatnya korupsi yang begitu hebat. Nah kemudian ditambah lagi dengan percaturan geopoli­tik, kecenderungan itu nanti dulu lah. Ini dampak Trump apa, dampak dari Brexit apa. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya