Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menggelar dialog dengan 158 kepala desa dan 83 pendamping desa profesional se-Kabupaten Alor. Cuaca buruk yang menyelimuti kabupaten terluar di Nusa Tenggara Timur itu srempat menghambat perjalanan Menteri Eko..
"Allamdulillah bapak menteri bisa sampai juga. Soalnya sudah tiga hari ini Alor dilanda cuaca ekstrim, dan penerbangan Kupang-Alor banyak yang digagalkan karena cuaca tidak bersahabat," jelas Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes Nurdin kepada redaksi, Selasa (21/3).
Turut hadir pula dalam ajang dialog antara lain Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Erani Yustika, wakil gubernur NTT, serta Bupati Alor Amon Djobo.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Eko mengatakan bahwa desa saat ini bukan hanya objek dari pembangunan, tetapi desa adalah subjek dari pembangunan itu sendiri. Yang artinya, amanat Undang-Undang 6/2014 tentang Desa mendorong desa-desa di seluruh Indonesia untuk lebih mandiri.
Begitu besarnya perhatian pemerintah terhadap desa, Presiden Joko Widodo dengan Nawa Cita ketiga yaitu membangun Indonesia dari pinggiran akan kembali menaikkan Dana Desa di tahun 2018 menjadi Rp 120 triliun.
"Sehingga diperkirakan setiap desa akan mengelola Dana Desa di kisaran Rp 1,6 miliar sampai Rp 1,8 miliar per desa," kata Menteri Eko.
Dia menjelaskan, pada 2016, Dana Desa berjumlah total Rp 46,96 triliun, tahun ini bertambah menjadi Rp 60 triliun. Dan pada 2018 mendatang diharapkan bisa mencapai Rp 120 triliun. Untuk itu, dia meminta agar desa dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dana yang dialokasikan.
"Kalau perlu setiap desa bisa menciptakan satu produk unggulan yang bisa diandalkan, mendatangkan pendapatan bagi desanya. One village one product sangat diharapkan," beber Menteri Eko.
Dia mencontohkan, ada sekitar 600 desa di Indonesia yang sudah membangun embung hasil dari pemanfaatan Dana Desa. Maka desa-desa lain pun diharapkan bisa mencontoh langkah tersebut dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat. Bahkan, ada desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yaitu Desa Ponggok yang berhasil mengelola sektor pariwisata melalui pemanfaatan kolam renang kuno yang dipercantik memanfaatkan Dana Desa.
"Ini adalah inovasi yang sangat baik dan patut dicontoh desa-desa lainnya agar bisa keluar dari ketertinggalannya. Dengan penghasilan Rp 6,5 miliar, pemerintah Desa Ponggok berhasil mensejahterakan masyarakatnya. Bahkan tidak ada anak usia sekolah yang tidak sekolah, sebab pemerintah desa membiayainya hingga ke perguruan tinggi," jelas Menteri Eko.
Pemerintah juga mengingatkan agar aparat desa, khususnya di NTT bisa mensosialisasikan dengan baik Dana Desa dengan melibatkan masyarakat dan melaporkannya secara transparan. Agar masyarakat benar-benar dilibatkan dan bisa keluar dari kemiskinan.
"Dana Desa ditujukan untuk masyarakat. Maka masyarakat harus terlibat dalam pengelolaannya, harus bisa bekerja agar tidak menjadi miskin," ujar Menteri Eko.
Selain itu, dia berharap agar Pemkab Alor dengan potensi alam yang dimiliki selama ini bisa mencanangkan program prioritas untuk masyarakat. Salah satunya seperti mengembangkan tanaman jagung.
"Dan kami siap untuk mensuppotnya," tegas Menteri Eko.
[wah]