Pemandangan menarik muncul saat peresmian Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang, Banten. Segenap civitas akademika tampak khusyuk mengikuti khamatan Al Quran yang dipimpin langsung Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir.
Ribuan mahasiswa, karyawan, dosen, pejabat rektorat, serta tamu undangan ikut melantunkan bacaan Al Quran dalam kegiatan yang terselenggara berkat kerja sama Untirta, Nusantara Mengaji, dan Kemenristekdikti.
Dalam sambutannya, Nasir mengatakan, terdapat kurang lebih 4.000 kampus di seluruh Indonesia. Untuk itu, dirinya mengajak kepada semua mahasiswa agar mematangkan mental dengan mengaji kitab suci masing-masing. Bagi umat Islam tentu saja dengan mengkhatamkan Al Quran. Bagi mereka yang beragama Hindu, Budha, Protestan, dan Katolik tentu menghayati kitab suci masing-masing.
"Dengan demikian mental mahasiswa semakin matang, dan lulusannya berkualitas secara ilmu dan mental," katanya, Senin (20/3).
Menurut Nasir, agar lulusan berkualitas maka apa yang harus dilakukan seperti dikutip dari kitab Kifayat al-Atqiya karangan Syekh Nawawi al-Bantani, hendaknya mahasiswa menjadikan tujuan hidup ibarat mutiara. Di mana, mutiara hanya tumbuh dari lingkungan dan kondisi yang baik. Mutiara tidak bisa muncul dari orang yang sakit hatinya, sombong, malas, suka mengadu domba, dan gemar menyebar hoax. Dia menyebut, national compititisme meliputi tenaga terampil dan kekuatan inovasi harus dimiliki.
"Jika ini kita jalani, maka tidak akan ditemukan doktor palsu, ijasah palsu, dan kampus palsu," ujarnya.
Koordinator Nasional Nusantara Mengaji Jazilul Fawaid menambahkan, manfaat Al Quran diturunkan salah satunya adalah sebagai obat atau syifa. Jika fisik sakit maka akan sangat mudah didiagnosa dan diobati. Tensi darah, kolesterol dapat mudah diukur, akan tetapi jika sakit non fisik sulit dideteksi. Bagaimana mendeteksi sombong, malas, pelit, angkuh, dan lainya dalam diri seseorang tentu bukan perkara mudah.
"Nah, Al Quram diturunkan untuk mengobati penyakit hati," ujarnya.
Jazilul menyebut bahwa bangsa indonesia perlu direvolusi bukan karena sakit fisik, melainkan penyakit non fisik. Oleh sebab itu, Presiden Jokowi membuat program Revolusi Mental karena bangsa Indonesia bukan sakit fisik tetapi hatinya yang sakit.
"Oleh sebab itu, Al Quran adalah salah satu perangkat Revolusi Mental bangsa Indonesia," imbuhnya.
Dalam acara tersebut, turut dihadiri Rektor Untirta Prof. Sholeh Hidayat, perwakilan MUI Cilegon, MUI Provinsi Banten, PCNU Cilegon, serta kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banten.
[wah]