Penggemar durian yang tinggal di Jakarta tentu tidak asing dengan pusat penjualan durian di Jalan Kalibata. Pemprov DKI Jakarta telah membangungkan deretan kios baru untuk para pedagang.
Kios-kios yang sebelumnya berada di depan gedung Kementerian Dalam Negeri dipindahkan ke depan gedung Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja. Tampilan deretan kios itu pun lebih baik, lebih terang dan lebih bersih. Didominasi warna biru muda dan cahaya neon putih yang terang benderang pada malam hari.
Bagi sementara konsumen durian di tempat itu, kini harga durian di Kalibata lebih mahal dari sebelumnya. Durian Medan dijual Rp 85 ribu per buah. Setelah tawar menawar, harga yang disepakati sebesar Rp 75 ribu.
Begitu juga dengan durian Petruk yang ukurannya relatif lebih kecil dan durian Montong yang ukurannya lebih besar dan biasanya dijual perkilo.
Jangankan pembeli, penjual durian di Jalan Kalibata pun mengeluh.
Seorang penjual mengatakan, harga durian terpaksa mereka naikkan karena beban yang mereka tanggung juga semakin berat.
Kios baru yang mereka tempati sejak sebulan lalu lebih mahal dari kios sebelumnya.
"Setiap bulan kami bayar iuran Rp 100 ribu lewat Bank DKI. Kami juga harus bayar biaya sampah Rp 15 ribu per hari dan biaya kebersihan Rp 5 ribu per hari," kata pedagang yang sudah bertahun-tahun jualan durian di Kalibata itu
Kios baru yang menampung 30 pedagang itu dikelola oleh Dinas Koperasi UKM serta Perdagangan Provinsi DKI Jakarta. Sebanyak 10 pedagang dipindahkan dari lokasi lama di depan gedung Kementerian Dalam Negeri. Sementara 20 pedagang lainnya sudah lebih dahulu berdagang di titik ini.
"Untuk setiap lampu neon tambahan kami bayar Rp 15 ribu per hari. Umumnya pedagang pakai dua lampu," kata dia lagi.
Jadi, setiap hari masing-masing pedagang mengeluarkan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu iuran per bulan.
Jumlah durian yang terjual juga berkurang seiring dengan penurunan jumlah pembeli yang keberatan dengan harga durian yang menjadi lebih mahal.
Dia juga mengeluhkan lokasi baru yang jauh dari pusat kuliner di seberang Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Saat masih berjualan di dekat pusat kuliner, kata dia, pembeli lebih banyak. Warga yang berencana mau makan malam, bisa berubah pikiran membeli durian saat melihat tumpukan durian di kios. Pembeli yang sedang memakan durian di kios durian juga bisa memesan minuman dari penjual minuman di pusat kuliner itu.
Di lokasi baru dengan sendirinya jumlah pembeli menurun. Hanya orang-orang yang mau makan durian yang datang ke kios durian itu.
Pembeli juga tidak bisa memesan minuman lain.
Pedagang minuman di salah satu sisi deretan kios hanya menjual air mineral kemasan yang menjadi sponsor pengelola kios. Begitu juga dengan teh kemasan dan kopi instan. Hanya merek-merek yang menjadi sponsor yang boleh dijual di tempat yang baru itu.
Seorang pedagang durian lainnya tak begitu mempersoalkan kondisi di kios baru. Kata pedagang yang ini, kalau dihitung-hitung biaya yang harus mereka habiskan setiap hari di kios lama lebih besar dari biaya yang harus mereka keluarkan di kios baru.
“Harga durian mahal karena memang sedang mahal, Mas,†ujarnya.
Tapi pedagang yang ini juga punya keluhan walau tak banyak.
Dia mengeluhkan posisi rak yang berdempetan antara dua pedagang. Deretan kios itu dibagi per kapling, dimana satu kapling dibagi dua. Deretan kedua pedagang durian di satu kapling itu sama sekali tidak punya pembatas.
“Pembeli menawar durian saya, tapi karena bersebelahan dengan rak teman, bisa jadi pembeli mengambil dan membayar durian dari rak teman saya. Kita harus banyak sabar disini,†ujarnya.
Baginya, keluhan-keluhan pedagang hanya persoalan transisi dari situasi lama ke situasi baru. Dia berharap di masa yang akan datang penjualan durian bisa bagus lagi dan pembeli bisa lebih banyak seperti sebelumnya.
[dem]