Pemerintah diminta mendorong ekspor produk hilir dibandingkan produk mentah atau komoditas. Selain untuk meningkatkan nilai tambah, langkah tersebut juga bisa memperluas pasar tujuan ekspor.
Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, sejauh ini, sekitar 70 persen ekspor Indonesia masih mengandalkan komoditas. Melihat fakta tersebut, artinya, selama ini hanya negara-negara dengan industri maju seperti Amerika, China, dan Jepang yang paling banyak menyerap barang ekspor Indonesia sebagai bahan baku industri mereka.
"Kalau ekspor kita itu bisa digeser ke sektor produk, tentu negara-negara yang berada di luar negara industri seperti Afrika Selatan, Timur Tengah, dan juga beberapa negara di Amerika Latin serta Eropa, bisa kita masukkan produk kita," kata Enny saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.
Enny menambahkan, dengan pemerintah fokus ekspor produk hilir akan terhindar dari fluktuasi harga komoditas, seperti yang sering dialami sekarang. MisalÂnya, sektor pertambangan baik mineral maupun migas.
"Banyaknya kerja sama inÂternasional yang baru ditandaÂtangi pemerintah akan menjadi indikator bertambahnya keyaÂkinan investor- investor untuk menanamkan modal di bidang manufaktur," tukas Enny.
Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui, selama puluhan tahun Indonesia terlalu banyak mengandalkan ekspor bahan mentah. "Sudah harga dan nilai tambahnya tidak bagus, kita tak juga bisa menghasilkan kegiatan industri untuk mengoÂlahnya," ujarnya.
Untuk mengatasi tantangan ini, menurutnya, dibutuhkan perusahaan perdagangan yang besar sehingga memiliki keÂmampuan dalam mengelola hasil perkebunan tersebut. Ia menconÂtohkan, bagaimana selama ini Singapura menjadi negara tujuan ekspor hasil perkebunan IndoneÂsia dengan harga murah.
"Namun, ketika sudah sampai di Singapura, hasil perkebuÂnan tersebut diolah lagi, dan memiliki nilai jual hingga tiga kali lipat harga yang dibeli dari Indonesia," papar Darmin.
Pakai Tarif Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian PerdaÂgangan Arlinda mengatakan, kondisi perekonomian dunia saat ini, mendorong negara-negara di dunia ingin melindÂungi industri dalam negerinya masing-masing. Itu bisa dilihat dari banyaknya negara yang menggunakan
Non-Tariff BarÂrier (NTB) untuk bertahan dari serbuan ekspor.
"Akibat negara-negara maju menggunakan mekanisme stanÂdar, NTB semacam ini berpoÂtensi menghambat ekspor IndoÂnesia ke negara-negara potensial tujuan ekspor," paparnya.
Dengan kondisi pasar seperti itu, mau tidak mau, kata dia, peÂmerintah harus membuka pasar ekspor baru ke negara non tradiÂtional. Kendati begitu, pihaknya tetap akan menggarap pasar yang lama. "Kita akan kembangkan varian produknya," jelasnya.
Menteri Perdagangan EngÂgartiasto Lukita mengatakan, sudah mulai melakukan perbaiÂkan ekspor dari produk mentah menjadi produk hilir yang berÂnilai tambah. Misalnya, penanÂdatanganan nota kesepahaman (
memorandum of understandÂing/MoU) sektor perdagangan dengan Arab Saudi baru-baru. Dalam kerja sama itu, Indonesia akan mengekspor produk jadi ke Arab Saudi.
"Kita menyadari, masih banÂyak komoditi lain yang masih bisa kita kembangkan untuk meningkatkan hubungan kerja sama perdagangan antara dua negara yang mempunyai hubunÂgan historis begitu panjang," tukas Enggar.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2017 cukup positif, yaitu 12,57 miliar dolar AS, atau lebih tinggi daripada realisasi impor 11,26 miliar dolar AS. Kinerja ekspor dan impor didominasi oleh sekÂtor nonmigas yang mengalami surplus hingga 2,55 miliar dolar AS. Sementara sektor migas menÂgalami defisit hingga 1,23 miliar dolar AS. Dari capaian tersebut, maka neraca perdagangan FebÂruari 2017 berhasil mencatatkan surplus 1,32 miliar dolar AS.
"Mudah-mudahan surplus ke depan semakin meningkat," ujar Kepala BPS Suhariyanto.
Deputi Bidang Statistik DistriÂbusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, ke depanÂnya terdapat beberapa variasi ekspor yang bisa digenjot oleh pemerintah, contohnya ekspor mobil hingga Filipina dan Arab Saudi. Sebab, potensi ekspor kedua negara tadi terbilang besar. Terutama Arab Saudi. ***