Berita

Foto/Net

Bisnis

Miris, 70% Ekspor RI Andalkan Komoditas

Menteri Enggar Kembangkan Produk Hilir
JUMAT, 17 MARET 2017 | 09:32 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah diminta mendorong ekspor produk hilir dibandingkan produk mentah atau komoditas. Selain untuk meningkatkan nilai tambah, langkah tersebut juga bisa memperluas pasar tujuan ekspor.

 Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, sejauh ini, sekitar 70 persen ekspor Indonesia masih mengandalkan komoditas. Melihat fakta tersebut, artinya, selama ini hanya negara-negara dengan industri maju seperti Amerika, China, dan Jepang yang paling banyak menyerap barang ekspor Indonesia sebagai bahan baku industri mereka.

"Kalau ekspor kita itu bisa digeser ke sektor produk, tentu negara-negara yang berada di luar negara industri seperti Afrika Selatan, Timur Tengah, dan juga beberapa negara di Amerika Latin serta Eropa, bisa kita masukkan produk kita," kata Enny saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.


Enny menambahkan, dengan pemerintah fokus ekspor produk hilir akan terhindar dari fluktuasi harga komoditas, seperti yang sering dialami sekarang. Misal­nya, sektor pertambangan baik mineral maupun migas.

"Banyaknya kerja sama in­ternasional yang baru ditanda­tangi pemerintah akan menjadi indikator bertambahnya keya­kinan investor- investor untuk menanamkan modal di bidang manufaktur," tukas Enny.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui, selama puluhan tahun Indonesia terlalu banyak mengandalkan ekspor bahan mentah. "Sudah harga dan nilai tambahnya tidak bagus, kita tak juga bisa menghasilkan kegiatan industri untuk mengo­lahnya," ujarnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, menurutnya, dibutuhkan perusahaan perdagangan yang besar sehingga memiliki ke­mampuan dalam mengelola hasil perkebunan tersebut. Ia mencon­tohkan, bagaimana selama ini Singapura menjadi negara tujuan ekspor hasil perkebunan Indone­sia dengan harga murah.

"Namun, ketika sudah sampai di Singapura, hasil perkebu­nan tersebut diolah lagi, dan memiliki nilai jual hingga tiga kali lipat harga yang dibeli dari Indonesia," papar Darmin.

Pakai Tarif

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perda­gangan Arlinda mengatakan, kondisi perekonomian dunia saat ini, mendorong negara-negara di dunia ingin melind­ungi industri dalam negerinya masing-masing. Itu bisa dilihat dari banyaknya negara yang menggunakan Non-Tariff Bar­rier (NTB) untuk bertahan dari serbuan ekspor.

"Akibat negara-negara maju menggunakan mekanisme stan­dar, NTB semacam ini berpo­tensi menghambat ekspor Indo­nesia ke negara-negara potensial tujuan ekspor," paparnya.

Dengan kondisi pasar seperti itu, mau tidak mau, kata dia, pe­merintah harus membuka pasar ekspor baru ke negara non tradi­tional. Kendati begitu, pihaknya tetap akan menggarap pasar yang lama. "Kita akan kembangkan varian produknya," jelasnya.

Menteri Perdagangan Eng­gartiasto Lukita mengatakan, sudah mulai melakukan perbai­kan ekspor dari produk mentah menjadi produk hilir yang ber­nilai tambah. Misalnya, penan­datanganan nota kesepahaman (memorandum of understand­ing/MoU) sektor perdagangan dengan Arab Saudi baru-baru. Dalam kerja sama itu, Indonesia akan mengekspor produk jadi ke Arab Saudi.

"Kita menyadari, masih ban­yak komoditi lain yang masih bisa kita kembangkan untuk meningkatkan hubungan kerja sama perdagangan antara dua negara yang mempunyai hubun­gan historis begitu panjang," tukas Enggar.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2017 cukup positif, yaitu 12,57 miliar dolar AS, atau lebih tinggi daripada realisasi impor 11,26 miliar dolar AS. Kinerja ekspor dan impor didominasi oleh sek­tor nonmigas yang mengalami surplus hingga 2,55 miliar dolar AS. Sementara sektor migas men­galami defisit hingga 1,23 miliar dolar AS. Dari capaian tersebut, maka neraca perdagangan Feb­ruari 2017 berhasil mencatatkan surplus 1,32 miliar dolar AS.

"Mudah-mudahan surplus ke depan semakin meningkat," ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Deputi Bidang Statistik Distri­busi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, ke depan­nya terdapat beberapa variasi ekspor yang bisa digenjot oleh pemerintah, contohnya ekspor mobil hingga Filipina dan Arab Saudi. Sebab, potensi ekspor kedua negara tadi terbilang besar. Terutama Arab Saudi. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya