Berita

Foto/Net

Politik

KIS Andalan Jokowi Ternyata Dompleng BPJS Kesehatan

SELASA, 14 MARET 2017 | 10:33 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kartu Indonesia Sehat (KIS) andalan Presiden Joko Widodo ternyata mendompleng program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

"Kemarin mampir ke Kantor BPJS Kesehatan untuk merubah data. Oleh petugas, kartu BPJS lama diminta dan dibuatkan kartu baru. Kaget banget ternyata kartu baru berlogokan KIS," kata Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya'roni kepada redaksi sesaat lalu (Selasa, 14/3).

Spontan dia bertanya ke petugas, tidak perlu membayar iuran lagi karena kartu BPJS-nya sudah diganti dengan KIS.


"Dijawab petugas tetap bayar iuran karena masuk kategori peserta mandiri. Jadi ternyata program KIS Pakde (Jokowi) dompleng program BPJS," keluhnya.

Padahal kalau boleh memilih, kata Sya'roni, dirinya lebih bangga memakai kartu BPJS yang lama daripada versi KIS.

"Takutnya lagi nanti ada klaim bahwa pemegang KIS sudah sekian ratus juta, padahal itu peserta BPJS yang tiap bulan bayar iuran," sebutnya.

Sya'roni pun mengingatkan bahwa konsep BPJS digodok melalui roadmap yang panjang melibatkan segenap anak bangsa yang bertarung ide dan gagasan bahkan adu demonstrasi di lapangan.

Setelah melalui uji publik yang panjang dan perdebatan parlemen yang sengit akhirnya lahirlah undang-undang BPJS.

Sementara KIS lahir dalam ruang dan waktu yang sempit, yakni saat kampanye Pilpres 2014. Selain itu, KIS yang diusung sebagai bahan kampanye oleh Jokowi belum melalui uji publik.

Karenanya menurut dia, bisa dicurigai pemberian kartu KIS kepada peserta BPJS sebagai jalan pintas untuk lebih mempopulerkan KIS. Langkah ini sarat dengan modus pencitraan untuk menyongsong Pilpres 2019.

"Lebih baik BPJS kesehatan memberikan kartu BPJS kepada pesertanya. Bukan kartu KIS," tukas Sya'roni. [rus]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya