Berita

Foto/Net

Politik

Mimpi Anak Banteng

KAMIS, 09 MARET 2017 | 23:37 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

ADA rumor, Ahok bakal tetap masuk bui. Sehingga sekali pun menang, Djarot bakal jadi gubernurnya. Bukan Ahok.

PDIP mesti masukan Ahok ke dalam kotak. Bila kepengen Puan Maharani jadi Wapres. Skenario ini diyakini segenap kader, militan dan loyalis PDIP. Karena itu, mereka all out coblos Paslon Badja. Walau pun, mereka benci Ahok. Sekali pun harus hianati aqidah, beresiko masuk kategori munafikun. Mayat mereka terancam tidak disholatin. Tapi mereka tetep nekat.

Itu alasan mengapa Badja raih 40 persen. Mereka hakulyakin, Djarot yang bakal jadi gubernurnya.


Bagi saya, ini naif. Ahok tidak mungkin masuk bui bila dia menang pilgub.

Sebagai gubernur, Ahok punya otoritas dan segala "kekuasaan" (power) menganulir hukum. Dia lolos berbagai kasus korupsi. Kasus pembelian lahan milik sendiri di Cengkareng Barat misalnya. Dipetieskan. Hilang. Lenyap. Terakhir, namanya hilang dari daftar penerima duit e-KTP.

Kader Banteng mesti sadar, power merupakan ekspresi struktural. Seperti kata Filsuf Michel Foucault. Power itu sesuatu yang rumit. Kompleks. Tidak segampang itu, memenjarakan Ahok, bila dia menang pilgub dan jadi gubernur.

Ahok bakal punya "Legitimate Power". Akibat posisinya sebagai gubernur. Makanya, legitimate power sering disebut "positional power". Kekuasaan jenis ini merupakan otoritas formal yang otomatis melekat pada Ahok bila dia jadi gubernur. Dia bisa menggunakan alat koersif polisi, intel dan tentara.

Sebagai orang nomor satu di ibukota, tentu saja, Ahok bakal sanggup menyedot aliran dana taktis dari taipan. Duit ini bisa beli orang dan hukum.

Dengan kemampuan finansial itu, Ahok punya "reward power". Bisa nyuap. Bisa ngasi kedudukan kepada kroninya. Bisa ngasi proyek. Karena itu, bakal banyak orang yang bela mati-matian dan berani pasang badan buat Ahok.

Kalau sudah begini, mana mungkin Kader Banteng bisa merealisir mimpinya menjadikan Djarot sebagai gubernur.

Saat posisi gubernur diraih, dengan mudah Ahok akan mengkonsolidasi kekuatan. Taipan, media, buzzer, Iwan Bopeng, polisi dan sebagainya akan menjadi benteng Ahok. Semakin dia menjauh dari sel penjara. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang sama, Ahok bisa menginjak norma-norma dan jungkir-balikan rasio. Dia bakal jadi destruktif.

Kekuasaan gubernur itu akan dijadikan Ahok sebagai alat "present means, to obtain some future apparent good" (Thomas Hobbes).

Psikolog Adam Galinsky menyimpulkan, that the more power one has, the less one takes on the perspective of others, implying that the powerful have less empathy. Ahok sudah membuktikan diri tidak punya empati. Jadi, amat sulit bagi kader PDIP jika masih bermimpi memenangkan pilgub, penjarakan Ahok dan naikan Djarot. Itu mustahil.

Paling baik, PDIP harus memainkan kartu kalah. Mundur selangkah, untuk meraih manfaat lebih besar. Ahok kalah berarti masuk bui dan Puan bisa jadi cawapres. Itu opsi lebih baik daripada berjibaku dan all out menangkan pilgub, yang sama artinya menjadikan Ahok sebagai gubernur lagi. [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya