Berita

Kang Tatang/RMOL

Politik

Buku, Pesta, Dan Cinta

KAMIS, 09 MARET 2017 | 09:49 WIB | OLEH: TATANG MUTTAQIN

SEBAGAI lulusan pesantren yang terbatas jangkauan pergaulan, saya cukup terkesan atau bahkan takjub ketika salah satu pemateri orientasi studi di kampus dua puluh lima tahun lalu, memperkenalkan jargon dunia mahasiswa, yaitu “buku, pesta dan cinta”. Efek kejut tersebut membuat tiga kosa kata selalu terngiang tak terkecuali ketika pertama kali tiba di kampus di utara Belanda ini.

Jika dua puluh lima tahun lalu, buku, pesta dan cinta dimaknai dengan sikap heroik nan romantik maka di kampus ini lebih memahaminya secara substantif, bagaimana anak-anak muda berjam-jam bersepi-sepi di perpustakaan sehingga perpustakaan menjadi pusat keramaian yang nyaris tanpa henti, itulah makna “buku” dalam kehidupan kampus. Kosa kata selanjutnya adalah pesta, sesuatu yang terlalu mewah untuk mahasiswa “ndeso” yang bermodal pas-pasan seperti saya dulu, kini menjadi tradisi karena sebagian besar dibiayai jurusan.

Di samping pesta minum dan ngobrol bersama jelang akhir pekan yang lebih dikenal dengan “borel”, juga ada pesta makan malam antar cluster kajian. Melengkapi pesta tersebut, setiap ada pencapaian peneliti, semisal mendapatkan hibah penelitian atau award publikasi dan lainnya selalu dilengkapi dengan kumpul bersama untuk berpesta. Salah satu pesta yang cukup mengesankan adalah pesta “sitasi”. Sitasi (citation) merupakan simbol kinerja peneliti kiwari dengan adagium publish or perish, publikasi atau terminasi alias punah sebagai peneliti. Kinerja peneliti diukur dengan seberapa banyak publikasi di berbagai jurnal bonafid dengan impact factor yang tinggi dan beranak pinak dalam beragam kutipan di banyak artikel selanjutnya atau sitasi.


Berdasarkan analisa Jerry A. Jacobs (2016), seorang sosiolog dari negeri Paman Sam, terhadap 140 jurnal ilmiah, dua senior di jurusan dan ICS meraih top ten sitasi. Tom Snijders yang berada di ranking pertama melalui artikel di jurnal Social Network bertajuk “Introduction to stochastic actor-based models for network dynamics” dengan 681 dengan co-author Christian Steglich, dan Christian Steglich dengan co-author Tom Snijders dalam artikel di jurnal Sociological Methodology dengan topik “Dynamic Networks and Behavior: Separating Selection from Influence” dengan 402.

Capaian ini menunjukkan perubahan substantif dalam kajian sosiologi dengan berkibarnya topik Social Networks sekaligus mewartakan pesan yang cukup mengejutkan dengan terjadinya pergeseran dari absennya top-citation dalam jurnal “generalist” semisal American Journal of Sociology (AJS) dan American Sociological Review (ASR) dan semakin kokohnya top-citation di jurnal yang lebih “spesialist” seperti Social Networks dan the Journal of Marriage and the Family.

Capaian Tom Snijders di posisi puncak merupakan hasil “cinta” seorang ilmuwan sejati yang ditunjukkan dengan kerja keras, kerja sama dan ketekunan yang luar biasa yang membuat saya menerawang kejadian lebih dari empat tahun lalu ketika awal aktif di kampus ini. Saat itu Tom yang merupakan professor dalam Methodology dan Statistics di Jurusan Sociologi yang merangkap di Nuffield College, Universitas Oxford terkena serangan jantung sehingga dirawat cukup lama dan alhamdulillah kembali pulih. Setelah pulih, dengan “cinta” beliau aktif kembali di Interuniversity Center for Social Science Theory and Methodology (ICS), tempat kami menimba ilmu yang merupakan kerja sama tiga universitas: University of Groningen, Utrecht University, dan Radboud University Nijmegen.

Selaku mahaguru, Tom Snijdersbanyak mencurahkan kajiannya statistik ilmu sosial, mathematical sociology dan item response theory. Selanjutnya banyak melakukan pengembangan dan pendalaman dalam multilevel analysis, semisal pengenalan MLwiN dan Mln/MLwiN macros;PINT program for Power analysis IN Two-level designs; TWOMOK paper & program for two-level scale analysis ('ecometrics').

Seiring dengan perkembangan metode untuk social networks dan evolusi dalam network, Tom juga berkontribusi dalam pengembangan dan pembuatan beragam perangkat lunak analisis, yaitu: (1) SIENA untuk mendedah data network yang berkelanjutan (longitudinal network data); (2) BLOCKS untuk stochastic block modeling; (3) ZO untuk analisis matriks 0-1 dengan gabungan baris dan kolom; (4) StOCNET; dan (5) SNOWBALL untuk melakukan perkiraan ukuran populasi tersembunyi dengan memggunakan sample berpola bola salju (snowball). Terkait beragam pengembangan ini bisa ditelusuri lebih lanjut di laman https://www.stats.ox.ac.uk/~snijders/

Sekalipun sering bertegur sapa dengan Tom Snijdersdan pernah ikut kuliah Christian Steglich tentang Social Networks, saya tak pernah mempraktekkannya dalam kajian-kajian yang saya geluti. Namun jauh sebelum mengembangkan beragam perangkat lunak “Social Networks”, Tom merupakan pakar terkemuka dalam multilevel analysis dengan bukunya yang menjadi buku teks bertajuk Multilevel Analysis yang sudah dicetak berulangkali.Di balik keseriusannya dalam mengembangkan beragam metode statistik dan matematik, Tom Snijdersmerupakan sosok yang ramah, rendah hati dan lucu terutama dalam setiap momen pesta. Inilah sejatining jargon para kuncen kampus “buku, pesta dan cinta”. Ketekunan mengkaji bidang ilmu (buku) dengan beragam daya upaya untuk tiba pada perayaan capaian (pesta)yang dijalani dengan penuh passion yang berkelanjutan (cinta).

Ketika pekan laluberpapasan di tangga, Tom Snijdersmenyapa sambil mewartakan bahwa beliau akan menjadi salah satu penguji dari delapan penguji sidang terbuka saya akhir maret nanti. Perasaan saya menjadi campur aduk, antara senang dan gugup. Senang karena akan diuji salah satunya oleh pakar yang sangat disegani namun juga gugup karena sependek menghadiri sidang-sidang terbuka pendahulu, pembacaan Tom Snijdersyang sangat teliti dan dilontarkan dalam beragam pertanyaan detail yang sering membuat para pendahulu tak berkutik. Namun demikian, semua perlu dihadapi dan menjadi bagian proses pembelajaran. Semoga!

Penulis adalah penekun Kajian Pendidikan di The Inter-university Center for Social Science Theory and Methodology (ICS),University of Groningen, The Netherlands

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya