Berita

Andi Amran Sulaiman/Net

Kisah Menteri Amran Soal Tentara Dan Ayam

KAMIS, 09 MARET 2017 | 01:28 WIB | LAPORAN:

. Sebagai anak pensiunan tentara, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman punya kisah menarik saat berhadapan dengan anggota TNI berpangkat kapten (tiga balok kuning emas).

Apalagi, ayah Andi yang pensiunan Sersan Mayor (Serma), kerap disambangi atasannya berpangkat Kapten.

"Saya kadang masih trauma dengan tentara dengan balok tiga (Kapten)," ungkapnya disela-sela peninjauan Panen Raya di Desa Samberan, Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (8/3).


Amran, mengisahkan keluarganya, harus menjual batu jika harus makan dan biaya hidup sehari-hari. Apalagi, keluarga besar Amran yang terdiri dari dua belas bersaudara.

Suatu hari, kenang Amran, atasan ayahnya datang ke rumah untuk bertamu. Namun, sang Kapten meminta menu makan siang dengan hidangan ayam. Lalu, ayahnya pun memerintahkan agar Arman memotong ayamnya. Padahal, menurutnya, itu merupakan ayam kesayangannya.

"Dengan berat hati saya potong juga ayam kesayangan. Setelah makan siang, saya pikir masih ada sisa. Ternyata tidak. Habis semua," kenangnya.

Amran sendiri hanya bisa berdoa jika nanti dirinya menjadi orang sukses, dapat memaksimalkan kinerja tentara.

Harapan tersebut pun terkabul saat dirinya menjadi Mentan. Khususnya, saat program panen raya yang ikut dikawal Babinsa untuk dijual ke petani.

"Ternyata doa saya terkabul. Sekarang aku bisa manfaatkan pangkat Kapten untuk kerja di lapangan," tutur Amran.

Kepada salah satu Babinsa berpangkat Serma di desa tersebut, Amran berpesan agar tidak perlu takut jika harus menghadapi penzoliman dari atasan.

Apalagi, jika menyangkut hal-hal yang merugikan petani atau masyarakat luas.

Mengingat, ada banyak permainan harga dari tengkulak dan oknum tertentu saat hasil panen petani sedang tidak stabil.

"Makanya, Babinsa, kalau ada Danramil datang, bilang jangan zolimi anak saya. Siapa tahu nanti anak Bapak (petani) jadi menteri," tutup pria kelahiran Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini dengan nada bercanda.

Untuk diketahui, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah hasil panen petani dihargai minimal Rp 3.700 perkilogram. Harga tersebut ditetapkan untuk dibayar oleh Bulog kepada petani dengan kondisi kadar air gabah di 20 persen ke bawah. [rus]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

Kadisdik DKI Senang Lihat Kemping Pramuka di SDN 11 Kebon Jeruk

Sabtu, 10 Januari 2026 | 02:03

Roy Suryo Cs Pastikan Menolak Ikuti Jejak Eggi dan Damai

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:47

Polri Tetap di Bawah Presiden Sesuai Amanat Reformasi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:14

Kesadaran Keselamatan Pengguna Jalan Tol Rendah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:04

Eggi dan Damai Temui Jokowi, Kuasa Hukum Roy Suryo Cs: Ada Pejuang Ada Pecundang!

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:34

Debat Gibran-Pandji, Siapa Pemenangnya?

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:19

Prabowo Didorong Turun Tangan terkait Kasus Ketua Koperasi Handep

Sabtu, 10 Januari 2026 | 00:04

Eggi dan Damai Mungkin Takut Dipenjara

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:46

Relasi Buku Sejarah dan Medium Refleksi Kebangsaan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:42

Kadispora Bungkam soal Lahan Negara di Kramat Jati Disulap Jadi Perumahan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:07

Selengkapnya