Berita

Net

Politik

PKS Jadi Partai Besar, Untuk Apa?

RABU, 08 MARET 2017 | 17:10 WIB | OLEH: EDY MULYADI

"Saya kagum dengan PKS. Partai ini kadernya solid dan militan. Kemampuan partai dalam memobilisasi juga luar biasa. Saya percaya di masa depan PKS bisa lebih besar lagi, bahkan bisa dua kali lipat daripada sekarang," ujar ekonom senior Rizal Ramli.

Keruan saja pernyataan yang disampaikannya pada Rakornas Partai Keadilan Sejahtera (PKS), di Depok, Selasa (7/3) itu mendapat tepuk tangan membahana dari ratusan peserta yang hadir. Mereka adalah para pimpinan PKS di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

"Tapi pertanyaannya, buat apa? Ya, buat apa PKS yang menjadi besar? Mohon maaf, dalam bidang ekonomi, PKS  garisnya tidak jelas. Selama ini, dari pidato-pidatonya, justru cenderung mendukung ekonomi neolib. Padahal, kebijakan neolib adalah pintu masuk neokolonialisme," imbuh Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan di era Presiden Abdurrahman Wahid itu.  


Meski terdengar pedas, kritik lelaki yang akrab disapa RR itu toh tetap menuai tepuk tangan meriah dari peserta Rakornas yang mengambil tema Kokoh Berkhidmat untuk Rakyat. Bahkan di sana-sini terdengar derai tawa yang cukup jelas ditingkahi serunya tepuk tangan.

Memang agak sulit memahami riuhnya tepuk tangan dan derai tawa hadirin. Pasalnya, ya itu tadi, pernyataan Rizal Ramli tersebut secara benderang 'menyerang' PKS. Kritik itu juga disampaikan langsung pada perhelatan penting partai, Rakornas. Di atas panggung ada tiga petinggi partai yang mengambil tagline Bersih, Peduli, dan Transparan ini. Mereka adalah Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, dan Ketua Tim Pemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI 2017, Mardani Ali Sera.

Mungkinkah mereka yang bertepuk tangan dan tawanya berderai itu mengamini sodokan Rizal Ramli? Atau, jangan-jangan mereka bahkan merasakan langsung dampak dari 'keberpihakan' PKS terhadap sistem ekonomi neolib yang selama puluhan tahun dianut dari rezim yang satu ke rezim berikutnya di negeri ini?

Pria yang pernah menjadi penasehat ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa bersama tiga penerima nobel bidang ekonomi itu melanjutkan, penerapan sistem neolib telah melahirkan kesenjangan luar biasa. Selama belasan tahun, mayoritas ekonomi kita hanya dikuasai segelintir kelompok saja.

"Neolib telah melahirkan strata masyarakat bagai gelas anggur. Mayoritas perekonomian kita dikuasai hanya sekitar 200 keluarga kaya. Tapi mereka cuma jago kandang. Sedangkan masyarakat kelas menengah yang mengerti dan peduli hanya sedikit, bagaikan pegangan gelas anggur. Sementara bagian terbesar rakyat tidak mendapatkan apa-apa. Ini harus diakhiri. Saya berharap PKS bisa mengambil peran penting dalam prosesnya," papar Rizal Ramli lagi.

Sistem ekonomi neolib yang dikomandoi oleh IMF dan Bank Dunia terbukti gagal mensejahterakan rakyat negara penganutnya. Fakta yang ada menunjukkan, tidak ada satu negara pun di dunia ini yang rakyatnya sejahtera dengan mengikuti nasehat IMF dan Bank Dunia. Negara-negara Amerika Latin adalah contoh nyata. Sepintas mereka tampak maju. Tapi, kemajuan itu ditopang oleh utang luar negeri yang amat besar, ketimpangan sosial yang sangat lebar, dan dominasi kekuatan asing atas perekonomiannya.

"Kalau Allah menakdirkan PKS menjadi partai besar, pertanyaannya; untuk apa? Sungguh aneh kalau PKS masih terus mendukung ekonomi neolib. Harusnya, PKS berjuang mengubah ini untuk mensejahterakan ekonomi ummat Islam yang mayoritas di negeri ini khususnya, dan rakyat Indonesia pada umumnya," sergah Menko Maritim yang hanya menjabat 11 bulan karena gigih karena menolak reklamasi Pantai Utara Jakarta ini.

Sebetulnya hari itu kritik bukan hanya dari Rizal Ramli. Sekretaris Umum Muhammadiya Abdul Mu'ti pun melontarkannya. Dia mengatakan, dulu PKS dikenal sebagai partai yang bersih dan peduli. "Tapi sekarang sudah agak kurang bersih dan kurang peduli," ungkapnya.

Tapi bukan PKS kalau menjadi lembek atau uring-uringan  karena kritik. Paling tidak, begitulah tanggapan peserta Rakornas dan para petinggi PKS yang ada di panggung. Secara eksplisit para petinggi itu menyatakan terima kasih atas saran dan kritik 'pedas' tadi. Tentu saja, mereka memaparkan beberapa prinsip dan program PKS yang dianggap bersesuaian dengan garis ekonomi Rizal Ramli.

Cuma yang agak sedikit aneh, hingga artikel ini ditulis pada Rabu, 8 Maret 2017 pukul 14.31 WIB, kritik Rizal Ramli di forum Rakornas tersebut sama sekali tidak muncul di situs resmi partai. Padahal, di situs yang sama dimuat lumayan banyak berita seputar Rakornas, termasuk berita dengan judul Muhammadiyah: Harapan Umat kepada PKS Sangat Tinggi.

"Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menegaskan harapan Umat Islam kepada PKS sangatlah tinggi. Sebab, PKS membangun kultur berorganisasi lebih karena faktor moral dan institusi kelembagaan (moral and institutional capital), bukan dengan finansial kelembagaan (financial institution)," demikian bunyi lead berita tersebut.
Nah, lho…? [***]

Penulis merupakan Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS).


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya