Berita

Yorrys Raweyai/Net

Wawancara

WAWANCARA

Yorrys Raweyai: Boleh Saja Mbak Titiek Dukung Anies-Sandi Secara Pribadi, Tapi Tidak Boleh Bawa Partai

KAMIS, 02 MARET 2017 | 09:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jelang putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, Wakil Ketua Dewan Pa­kar Partai Gokar Titiek Soeharto bermanuver. Dia menggelar per­temuan dengan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, cagub-cawagub DKI Jakarta yang menjadi pesaing jago partainya, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

 Pertemun itu menyulut kontroversi di internal Golkar. Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar DKI Jakarta sampai meng­gelar rapat pleno membahas pertemuan Titiek Soeharto. Hasilnya memang tidak signifi­kan. DPD DKI Jakarta meny­erahkan perkara Titik Soharto kepada DPP Partai Golkar.

Lantas bagaimana pengurus DPP Partai Golkar menyikapi manuver Titik Soeharto? Berikut penuturan Ketua bidang Politik Hukum dan Keamanan DPP Partai Golkar Yorrys Raweyai;


Bagaimana anda menilai manuver Titik Soeharto yang memberikan dukungan ke pasangan cagub-cawagub nomor 3 Anies-Sandi?
Kalau secara pribadi itu hak. Saya dengar beberapa kali Mbak Titiek dukung Anies, ada yang bertanya kepada saya. Terus kenapa, boleh saja dong secara pribadi, tapi memang tidak boleh kalau bawa nama partai. Dan dia (Titiek) juga tidak pernah men­gatasnamakan partai kan.

Jadi manuver Titik Soeharto itu bukan termasuk pelangga­ran?
Kalau di Partai Golkar tuh be­gini, sepanjang kalau anda mau secara pribadi (mendukung, red) itu hak. Tetapi tidak boleh pada saat acara-acara formal memakai dan mengatasnamakan partai. Itu tidak boleh. Karena itu sudah menjadi keputusan. Jadi keluar tidak apa-apa. Tapi kalau misal­nya ada kampanye, terus anda pakai baju kuning Golkar, terus anda tahu pakai baju Golkar terus mendukung pasangan lain, nah itu yang tidak boleh.

Memang kenapa kalau keta­huan memakai atribut partai saat memberikan dukungan ke pasangan lain?
Itu akan kena sanksi.

Sudah pernah ada kader Golkar seperti itu?

Contohnya kayak Fadel Muhammad. Dia itu kan kampanye untuk istrinya dan itu harus kena sanksi. tu harus, ada ke­tentuannya. Kalau nggak ya suka-suka aja. Fadel itu kena sanksi. Saya teman baik sama dia, saya sudah kasih tahu sama dia kalau ini (memberikan du­kungan dengan atribut partai) tidak bisa. Dia kan dukung istrinya, kemudian pakai sarana PDIP setiap kampanye.

Sanksinya apa?
Kita sudah kasih dia peringatan dengan copot dia dari Sekretaris Dewan Pertimbangan Partai Golkar. Ternyata dia tidak meng­indahkan, bahkan kampanye-kampanye terus lagi. Sehingga harus kena sanksi. Harus ada pilihan, kalau nggak partainya hancur nanti.

Oh ya di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta Golkar masih tetap dukung Ahok-Djarot atau beralih dukung Anies-Sandi seperti Titik Soeharto?
Jadi begini, kita mesti tahu. Kalau anda sudah komitmen, masa pindah di tengah-tengah jalan. Saya juga yakin kalau dia (Ahok) pasti akan menang. Pasti itu. Kenapa saya harus bicara seperti itu (pindah ke pasangan calon lainnya)

Tapi pasca putaran pertama Pilkada DKI partai pendukung Anies-Sandi berpotensi bakal bertambah lho, karena partai-partai pendukung Agus-Sylvi merapat. Apa Golkar tidak tertarik mengikuti?
(Soal fenomena migrasi du­kungan partai dari calon satu ke calon lainnya) biasa itu. Saya ambil contoh saja. Anda bisa lihat koalisi-koalisi dalam persoalan-persoalan pilkada. Kita lihat dari koalisi, demokrasi modern itu bukan demokrasi yang diakomodasi dari simbol-simbol, itu tidak ada.

Memang politik saat ini seperti apa?

Sekarang tuh partisipatif, ba­gaimana anda mampu melaku­kan gerakan melalui media so­sial, menggerakkan masyarakat, partisipasi saja.

Jadi sudah tidak bisa itu for­malistik segala macam, sekarang itu bebas pilih. Dulu memang bisa, tapi sekarang sudah tidak bisa. Simbol-simbol sudah tidak ada.

Anda yakin Ahok bisa me­nang di putaran kedua?

Saya karena kerja dan saya tahu sampai di mana melakukan kegiatan itu, makanya saya tahu pasti Ahok. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya