Berita

Foto/Net

Politik

Pemerintah Harus Bijak Jika Freeport Dialihkan Ke Tiongkok

KAMIS, 23 FEBRUARI 2017 | 10:53 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Perseteruan antara PT. Freeport Indonesia dengan Pemerintah Indonesia mengenai penolakan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan pembangunan smelter yang tidak kunjung dilakukan Freeport menjadi perhatian publik.

Freeport dinilai tidak bersungguh-sungguh mengelola pertambangan di Papua sesuai dengan UU Minerba yang terbaru. PT. Freeport Indonesia adalah milik perusahaan tambang asal Amerika Serikat, Freeport-McMoRan Inc.

Di sisi lain ada pendapat yang mengemuka bahwa perubahan status dari Kontrak Karya (KK) ke IUPK adalah untuk mengalihakan pengelolaan Freeport dari AS ke Tiongkok.


"Pasalnya saat ini investasi Tiongkok di Indonesia naik 400 persen pada kuartal I 2016 termasuk investasi pembuatan smelter yang cukup besar oleh Tiongkok untuk mengolah bahan baku mentah minerba, dan hal tersebut mendorong peringkat investasi Tiongkok di Indonesia yang semula peringkat ke 10 menjadi peringkat ke 3 sebagai negara investor terbesar di Indonesia melampaui Amerika Serikat," kata Direktur Eksekutif Bimata Politica Indonesia (BPI), Panji Nugraha, Kamis (23/2).

Panji menilai, polemik antara RI dengan Freeport tersebut diduga menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menghentikan izin pengelolaan yang dimiliki oleh Freeport dan menjadi bagian strategi besar Indonesia dalam kancah perkonomian global yang semakin memantapkan hubungan Indonesia dengan Pemerintah China terkhusus dalam bidang ekonomi.

Namun, yang perlu diperhatikan pula oleh pemerintah yaitu keinginan masyarakat mengelola atau menasionalisasi aset Freeport itu sendiri agar terwujudnya adagium berdikari sesuai janji Jokowi.

"Pemerintah harus bijak dan menghitung keuntungan dan kerugian jika PT. Freeport dialihkan kepada Tiongkok, dan harus dapat meminimalisir konflik yang akan terjadi dikemudian hari. Apakah pengelolaan PT. Freeport oleh Tiongkok atau hanya perusahaan smelternya saja menjadi keuntungan bagi pemerintah dan rakyat atau sebaliknya, hanya akan menimbulkan polemik baru dan penguasaan asing atas kekayaan alam Indonesia yag tak kunjung henti, karena pengelolaan baik oleh AS maupun Tiongkok adalah penguasaan atas kekayaan alam Indonesia yang sepatutnya demi kemakmuran rakyat Indonesia terkhusus rakyat Papua," tutup Panji. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya