Berita

Sri Mulyani/Net

Bisnis

Tim Jokowi Sajikan Pertumbuhan Ekonomi Yang Menyesatkan

SENIN, 13 FEBRUARI 2017 | 11:47 WIB | LAPORAN:

Pemerintahan Jokowi beberapa hari lalu mengumumkan kondisi perekonomian Indonesia tahun 2016. Disitu disebutkan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02 persen.

Kemiskinan juga disebutkan ada penurunan, pengangguran ikut berkurang dan kesempatan kerja meningkat.

"Data ini ingin menunjukkan bahwa Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus," kata Sekjen Pro Demokrasi, Satyo Purwanto.


Namun setelah dikaji lebih dalam laporan BPS tersebut, menurut Satyo, sangat paradoks dan menyesatkan. Ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sedikit ada peningkatan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan indikator kesejahteraan mayoritas rakyat Indonesia. Sebab faktanya, jelas Satyo, kemampuan pemerintah menurunkan angka kemiskinan sangat tidak signifikan jika dibandingkan dengan kekuatan APBN yang mencapai Rp 2 ribu triliun lebih.

Prodem mencatat setidaknya ada lima hal terkait resiko ekonomi berdasarkan data pertumbuhan ekonomi yang disajikan tim ekonomi presiden yang dapat menyesatkan masyarakat. Yakni, pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas, produktivitas nasional rendah, kesenjangan ekonomi yang masih sangat tinggi, inflasi yang diperkirakan lebih tinggi di 2017 dan rendahnya daya saing.

Karena itu kemampuan tim ekonomi presiden, menurut dia, wajib dievaluasi demi menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi sosial-politik yang belakangan ini cenderung memanas. Ditambah bergesernya kebijakan banyak negara setelah Donald Trump memenangi Pemilu Presiden Amerika yang politiknya akan lebih proteksionis.

Satyo mengatakan, tim ekonomi Presiden Jokowi di bawah komando Darmin Nasution, Sri Mulyani, dan Rini Soemarno, sangat tidak kompeten. Justru mereka membawa Indonesia semakin dalam terjerembab jeratan hutang luar negeri.

Resiko ketidakpastian global semakin besar akibat kebijakan ekonomi Donald Trump dan berpotensi memicu pelarian dana keluar negeri. Resiko global tersebut juga mengancam stabilitas nilai tukar mata uang sejumlah negara yang selama ini bergantung pada dolar AS, terlebih kondisi diIndonesia

Dengan meningkatnya risiko tersebut permintaan bagi hasil investasi akan semakin tinggi dan jaminannya akan makin besar, seperti halnya asuransi karena hutangnya juga meningkat.

"Kondisi itulah yang sekarang terjadi dan  dialami oleh Indonesia dikarenakan mempercayakan perekonomian bangsa dan negara ini kepada kaum neoliberal," tutup Satyo.[wid]


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya