Hingga saat ini tidak ada tanda-tanda pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat. Bahkan, di tengah pertumbuhan yang masih jauh dari target saat kampanye, yaitu sebesar 7 persen, pemerataan ekonomi kian jauh panggang dari apa.
"Saat ini, kesenjangan kian menganga. Kelompok orang kaya semakin kaya, sementara yang miskin kian terpuruk," kata Direktur Eksekutif Aufklarung Institute, Dahroni Agung Prasetyo, beberapa saat lalu (Sabtu, 11/2).
Ekonomi, tegas Dahroni, merupakan salah satu sektor yang paling dirasakan oleh masyarakat. Ekonomi juga menjadi salah satu faktor utama performance pemerintah di mata publik.
"Ini masalah sandang. Citra pemerintah akan mudah jatuh bila ekonomi tak makin membaik. Tak sedikit, politik menjadi tak menentu karena ekonomi tidak stabil," tegas Dahroni.
Dahroni pun menilai, sosok Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani ternyata tak bisa berbuat banyak. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, ada beberapa pernyataan Sri Mulyani yang membuka persoalan-persoalan keuangan yang seharusnya dijaga.
"Sri Mulyani tiba-tiba kini seakan menjadi akademisi, dan bukan bagian dari pemerintahan. Ada apa ini? Seharusnya Sri Mulyani mencari solusi, bukan mengemukakan masalah," tegas Dahroni.
Menurut Dahroni, kinerja Darmin dan Sri Mulyani benar-benar tak sesuai harapan Jokowi. Karena itu, sangat pantas bila kedua sosok ini dicopot dari kabinet.
"Bila ada reshuffle, Darmin dan Sri Mulyani yang paling pantas diganti," demikian Dahroni.
[ysa]