Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

EBT Tak Dioptimalkan, Negara Rugi Besar

JUMAT, 10 FEBRUARI 2017 | 17:55 WIB | LAPORAN:

RMOL. Indonesia berpotensi mengalami kerugian besar apabila pengembangan energi baru terbarukan mengalami pelambatan.

Begitu dikatakan pakar geothermal Universitas Indonesia, Yunus Daud dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/2).

"Hal ini adalah ironi, karena sebelumnya gairah untuk mengembangkan EBT, termasuk panas bumi, sangatlah besar,” sambungnya.


Yunus menjelaskan, terbitnya Permen ESDM 12/2017 tentang Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan untuk Penyediaan Listrik, menjadi penyebab.

Pembatasan harga EBT maksimal 85 persen dari Biaya Pokok Produksi (BPP) seperti tertuang dalam Permen tersebut, diyakini Yunus akan membuat para investor menjadi mundur.

"Bagaimana mau berinvestasi, jika dibatasi begitu,” kata dia.

Kondisi demikian, menurut Yunus, memang sangat merugikan. Terlebih jika melihat target pemerintah untuk mencapai bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025.

Dari kacamata dia, pemerintah akan semakin sulit untuk mengejar target tersebut, jika Permen 12/2017 tetap diberlakukan. "Padahal, kita semua tentu berharap target itu tercapai, bahkan kalau bisa lebih. Namun dengan Permen tersebut, tentu ketergantungan kepada bahan bakar fosil akan kembali besar,” kata Yunus.

Sebelumnya, pemerintah memang bertekad menggenjot pengembangan EBT yakni melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. Tidak tanggung-tanggung, dalam kebijakan tersebut, target bauran EBT pada 2020 disebut sebesar 17 persen. Sedangkan, pada 2025 mendatang, pemanfaatan EBT diharapkan sampai 23 persen.

"Sebenarnya, kebijakan sebelumnya sudah membuat iklim investasi lebih baik. Terbukti kan sudah banyak investor berminat mengembangkan geothermal. Tetapi dengan keadaan seperti ini, mereka bisa jadi mundur. Jadi apa mungkin target 2025 bisa tercapai?” lanjut dia.

Yunus memang pantas menyayangkan kebijakan tersebut. Terlebih, melihat potensi EBT yang sangat luar biasa dan diharapkan bisa menggantikan energi fosil di masa mendatang. Potensi energi panas bumi di Indonesia, misalnya, mencapai 27 GWe dan sangat erat kaitannya dengan posisi Indonesia dalam kerangka tektonik dunia. Bahkan saking melimpahnya, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, sampai menyebut bahwa panas bumi merupakan sumber energi kearifan lokal Indonesia.

"Energi ini memang sangat spesifik dan ada di Indonesia dalam jumlah besar. Tapi kalau tidak dikelola dengan baik, akhirnya bisa tidak termanfaatkan,” lanjut Yunus.

Guna mencari solusi, menurut Yunus, tak ada jalan lain, kecuali Menteri ESDM harus duduk bersama dengan para stakeholder, baik pengusaha maupun BUMN.

Dari sana Menteri ESDM bisa mendapat masukan, kondisi seperti apa yang bisa membangkitkan kembali gairah pengembangan EBT. Karena jangan lupa,  EBT merupakan energi masa depan yang diharapkan bisa menjadi alternatif pengganti energi fosil. [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya