Berita

Foto/Net

Bisnis

Pemerintah Kurang Serius Pangkas Ongkos Logistik

Biaya Pengiriman Barang Masih Mahal
JUMAT, 10 FEBRUARI 2017 | 08:37 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengusaha mendesak pe­merintah untuk lebih serius menurunkan biaya logistik. Se­lama ini, pengusaha menilai pe­merintah belum maksimal dalam menurunkan ongkos logistik.

Ketua Umum Asosiasi Logis­tik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengungkapkan, banyak pengusaha yang kecewa dengan janji manis pemerintah untuk menurunkan ongkos logistik. Pasalnya, janji tersebut tidak pernah terealisasi.

"Pemerintah selama ini cuma omdo turunkan biaya logistik," ujarnya dalam Focus Group Dis­cussion (FGD) yang bertema­kan "Harga Komoditas Tinggi, Salah Logistik?" yang digelar PT Debindo-ITE di Jakarta, kemarin.


Zaldy mengungkapkan, pe­merintah kerap mengklaim ong­kos logistik telah turun. Namun kenyataannya di lapangan biaya logistik masih tinggi. "Jadi beda apa yang diklaim dengan real­isasi di lapangan," cetusnya.

Zaldy juga menyayangkan, sikap pemerintah yang selalu menyalahkan logistik ketika harga komoditas seperti pangan mahal. Seharusnya, kata Zaldy, pemerintah fokus mengatur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kini jadi biang kerok dari permasalahan ongkos logistik.

"Komoditas tinggi lalu salah­kan logistik. Padahal BUMN sekarang ini jadi salah satu biang dari biaya logistik yang tinggi di Indonesia," ucapnya.

Ia mengatakan, beberapa pe­rusahaan pelat merah mulai ancang-ancang akan menaikkan tarif logistik, termasuk biaya pengelolaan (Terminal Handling Charge/THC) dan penyesuaian biaya logistik di bandar udara. "BUMN mulai menaikkan tarif-tarif logistik," ujar dia.

Ia menuturkan, keuntungan be­sar yang kini dikantongi BUMN berasal dari hasil memalak jasa logistik. "BUMN senang, kami susah dari tarif yang tinggi itu. Jadi harusnya keuntungan itu dibatasi," ucap dia.

Zaldy melanjutkan, biaya logistik mahal juga disebabkan infrastruktur transportasi yang belum memadai. Dia menilai, subsidi yang diberikan ke indus­tri pelayaran dan penerbangan sangat tidak tepat.

"Begitu subsidi dicabut, tarif bisa tinggi lagi. Jadi lebih baik pemerintah memperbaiki fasili­tas pelabuhan menjadi bagus se­hingga waktu tunggu tidak lama dan kapal swasta maupun Pelni akan mendapat keuntungan dari fasilitas tersebut," tukasnya.

Ketua Umum ALFI Yukki Nu­grahawan Hanafi mengatakan, tingginya harga komoditas bu­kan salah biaya logistik. "Kunci menurunkan harga komoditas adalah keinginan serius dari pemerintah dalam mengefisiensi biaya logistik," ujarnya.

Ia mengatakan, pemerintah harus serius untuk melakukan efisiensi biaya logistik yang saat ini sebesar 24 persen dari produk domestik bruto (PDB). "Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan suku bunga yang membebani penyedia jasa dalam mengembangkan usaha," tuturnya.

Meskipun demikian, Yukki juga menjabarkan sejumlah prestasi pemerintah yang berha­sil mengefisiensi biaya logistik. Misalnya, pengiriman kontainer ke Sorong, Papua, pada tujuh tahun lalu sekitar Rp 20 juta, sekarang harganya sudah men­jadi Rp 12 juta. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya