Berita

Foto/Net

Bisnis

Storage Belum Siap, ESDM Akhirnya Tunda Impor Gas

RABU, 08 FEBRUARI 2017 | 09:56 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah merespons positif kritik dari banyak kalangan terhadap rencana impor gas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan, impor gas tidak akan direalisasikan tahun ini.

 Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, pemerintah tidak akan mengimplementasi­kan impor gas jika terminal gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) belum memadai.

"Bagaimana caranya Indo­nesia impor LNG tanpa infrastruktur. Untuk membangun Floating Storage Regasification Unit (FSRU) dibutuhkan waktu dua sampai tiga tahun," kata Arcandra di Jakarta, kemarin.


Arcandra menyebutkan, saat ini Indonesia baru memiliki dua FSRU besar yakni FSRU Lampung dan FSRU Muara Karang.

Namun demikian, Arcandra menegaskan, pemerintah tidak menutup opsi melakukan impor gas. Pemerintah masih menghi­tung untung ruginya terhadap industri. "Pemerintah menguta­makan pasokan gas dari dalam negeri, kalau tidak mencukupi baru kita buka impor, tapi itu pun butuh waktu," ungkapnya.

Arcandra menerangkan, untuk menentukan apakan perlu impor atau tidak, pemerintah akan melihat dahulu sejauh apa kebu­tuhannya dan daerah mana saja yang membutuhkan.

Selani itu, pemerintah akan melihat dahulu kajian terhadap dampak jika industri keramik, kaca, sarung tangan karet, dan oleochemical, mendapatkan penurunan gas. Seperti dike­tahui, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 keempat industri tersebut akan mendapatkan penurunan harga gas.

"Pemerintah akan melihat dampaknya ke industri-industri turunan keempat sektor tadi. Jika dampaknya besar, maka penurunan gas bagi empat sek­tor yang dimaksud akan di­laksanakan segera mungkin," ungkapnya.

Sebelumnya, rencana impor gas disampaikan Menteri Per­indutrian Airlangga Hartarto. Menurutnya, rencana impor gas bertujuan unntuk menekan harga gas industri di dalam negeri. Rencana ini mendapatkan protes dari banyak kalangan. Karena, impor gas dinilai sia-sia, tidak akan mampu menekan harga. Lebih jauih gas impor diproyeksi akan lebih mahal karena biaya pengangkutan mahal.

Sementara itu, Senior Vice President Gas and Power PT Pertamina (Persero) Djohardi Angga Kusumah mengatakan, impor gas tidak bisa terelakkan karena kebutuhan bagi industri dan pembangkit listrik semakin besar. Sementara, sampai seka­rang belum ada sumber gas baru dari sumur gas di Indonesia

Dia memproyeksi, pertum­buhan konsumsi gas mencapai 4 hingga 5 persen per tahun dan akan mengalami defisit di tahun 2019. "Mungkin defisit pada 2019 bisa mencapai 500 MMSCFD (Million standard cu­bic feet of gas per day) sehingga impor diperlukan," ungkapnya,

Djohardi mengatakan, impor gas dibutuhkan bukan karena keinginan, tetapi ada permintaan yang meningkat. Jadi impor perlu dilakukan bukan semata-mata untuk mencari harga yang lebih murah, tetapi untuk me­menuhi kebutuhan.

Kebut Tata Kelola Gas

Wakil Menteri ESDM Arcandra menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk terus membenahi tata kelola gas bumi Indonesia. Menurutnya, pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur penyaluran gas, menumbuhkan pasar dan memadukan harga dengan kebijakan.

"Indonesia merupakan salah satu produsen gas alam global utama yang sedang berjuang untuk melayani permintaan di dalam negeri," kata Arcandra.

Arcandra menjelaskan, pemerintah memprioritaskan gas bumi untuk dimanfaatkan sebagai penggerak ekonomi. Sehingga, diharapkan akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Arcandra, Indonesia memiliki potensi gas yang belum dikembangkan. Se;ain itu, meng­gerakan ekonomi, pemerintah memprioritaskan pemanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi di dalam negeri.

"Indonesia mendukung ketahanan energi, memenuhi target bauran energi nasional menjadi 30 persen pada tahun 2025," pungkasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya