Berita

Foto/Net

Bisnis

"Pemerintah Mau Untung, Jadinya Malah Buntung"

Kata Pengusaha Soal Rencana Penerapan Cukai Plastik
RABU, 08 FEBRUARI 2017 | 09:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengusaha tetap menolak rencana pemerintah yang akan memberlakukan cukai plastik tahun ini. Kebijakan itu dinilai hanya menambah beban industri dan menekan daya beli masyarakat.

 Ketua Umum Asosiasi Peru­sahaan Air Kemasan Indonesia (Aspadin) Rachmat Hidayat menjelaskan, kebijakan cukai berpotensi membuat produsen barang yang menggunakan plas­tik menaikkan harga jualnya ke konsumen. Padahal, saat ini bisnis industri sedang mulai tumbuh lagi.

"Sekarang kami mendengar wacana ini akan diterapkan maka kami menolak aturan pengenaan cukai atas plastik kemasan. Saya berpandangan, kebijakan ini tidak tepat sasaran bahkan justru ber­potensi merugikan masyarakat (konsumen)," ucapnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Rachmat meminta, pemerintah jangan gegabah untuk mener­apkan kebijakan cukai plastik. Menurut dia kenaikan cukai plastik akan menurunkan daya saing industri, melemahkan per­tumbuhan ekonomi, mengganggu penerimaan negara, dan memang­kas penyerapan tenaga kerja.

Rachmat yang menjabat juga sebagai Wakil Pengurus Forum Lintas Asosiasi Industri Pro­dusen Dan Pengguna Plastik (FLAIPPP) menilai, langkah pemerintah untuk menambah target pendapatan cukai da­lam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 sebesar Rp 1,7 triliun dengan menerapkan cukai plastik bukan solusi tepat. Menurutnya, pem­berlakuan cukai plastik tidak akan membuat negara untung atau mengalami kenaikan penda­patan sesuai target tersebut.

"Menurut perhitungan kami yang ada justru negara menga­lami kerugian hingga Rp 528 miliar per tahun. Pemerintah maunya untung, jadinya malah buntung," katanya.

Dia menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia 2016 menunjukkan, pengenaan cukai plastik ke­masan dengan skema pengenaan cukai terhadap gelas plastik sebesar Rp 50 dan botol plastik sebesar Rp 200 akan merugikan negara hingga Rp 528 miliar per tahun. Hal itu berdasarkan simulasi bahwa negara akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1,91 triliun per tahun, namun di sisi lain justru akan kehilangan penerimaan hingga mencapai Rp 2,44 triliun akibat turunnya pen­erimaan negara dari pajak akibat menurunnya permintaan minu­man dalam kemasan sebesar Rp 10,2 triliun per tahun.

Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) Edi Rivai mengklaim, konsumsi plastik di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga apalagi dengan negara maju. Permasalahan sampah saat ini bukan karena produksi plas­tik melainkan pemerintah gagal memberi edukasi dan kesadaran pada masyarakat.

"Jadi intinya, meski kebijakan cukai dikenakan sebagai alat pen­gendalian, ya plastik akan tetap digunakan dan tidak berkurang penggunaannya dikarenakan belum adanya alternatif peng­ganti plastik kemasan yang sama baiknya," tegas Edi Rivai.

Dia juga mengingatkan, plas­tik sebagai kemasan juga belum memiliki alternatif pengganti, baik dinilai secara ekonomis mau­pun aspek teknis dan lingkungan. Bahkan dari jumlah konsumsi energi yang dibutuhkan.

"Proses pembuatan plastik relatif jauh lebih unggul diband­ingkan material yang lain, kar­ena membutuhkan energi paling sedikit (plastik: 3.1 kWh/kg) dibandingkan material lainya seperti kertas, gelas, baja, atau aluminium," katanya.

Pengenaan cukai plastik ke­masan akan membawa efek domino pada industri padat karya dan lainnya. Dia menjelas­kan plastik kemasan melibatkan ribuan pelaku pendaur ulang plastik kemasan.

Dirjen Industri Kecil dan Me­nengah (IKM) Kementerian Per­industrian Gati Wibawaningsih meminta, pengenaan cukai plas­tik ditunda pada 2017. Pengenaan cukai dianggap akan menjadi beban berat bagi pengembangan daya saing IKM nasional.

"Kami terus berupaya menggen­jot pertumbuhan IKM di dalam negeri. Namun pengenaan cukai ini, dinilai berpotensi mengganggu laju pertumbuhan sektor mayoritas dari populasi industri di Indonesia tersebut," paparnya.

Apalagi, pemerintah tengah gencar memacu kinerja IKM untuk menopang kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Gati, dengan kondisi ekonomi yang mulai stabil pada saat ini seharusnya bisa menjadi peluang bagi IKM untuk tumbuh signifikan.

"Kalau bisa ditunda, biar IKM-nya siap dulu. Anggaplah penundaan pengenaan cukai plastik ini sebagai insentif bagi IKM. Jangan terus digrogoti," ungkapnya.  ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya