Berita

Foto/Net

Bisnis

Plastik Kresek Mau Dikenai Cukai

RABU, 08 FEBRUARI 2017 | 09:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan rencana pengenaan cukai pada produk plastik berjalan tahun ini. Untuk tahap awal, kebi­jakan akan diberlakukan pada kantong plastik hitam atau lebih dikenal dengan plastik kresek.

"Plastik kresek tidak ra­mah lingkungan, susah didaur ulang, dan konsumsinya berlebihan," ujar Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi di Jakarta, kemarin.

Heru mengatakan, saat ini pihaknya tinggal menunggu persetujuan dari Komisi XI DPR untuk menerapkan kebi­jakan tersebut. Dia yakin poli­tisi Senayan akan mendukung kebijakan tersebut.


Sementara itu, ketua, Aso­siasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indo­nesia (GAPMMI) Adhi S Luk­man menyatakan keberatan terhadap rencana tersebut.

"Kebijakan itu akan melemahkan daya saing. Karena, negara lain tidak ada yang mengenakan cukai plastik," ungkapnya.

Adhi tidak bisa menerima alasan pengenaan cukai yang disampaikan pemerintah. Menurutnya, tidak benar plas­tik tidak bisa didaur ulang. "Kan sudah ada pabrik yang melakukan daur ulang plastik," sanggahnya.

Adhi menilai, pengenaan cukai berpotensi mengerek inflasi dan menurunkan daya beli. Karena, pengenaan cukai plastik otomatis akan menai­kan harga barang yang harus dibayar konsumen.

Sebelumnya, Direktur Jen­deral Industri Agro Kemen­terian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan, saat ini pemerintah tengah membentuk tim untuk mengkaji wacana pengenaan cukai kemasan plastik terhadap industri.

Terkait aspek lingkungan, Panggah mengatakan, pemer­intah masih akan mengkaji apakah pengenaan cukai plastik merupakan pilihan yang tepat. Menurutnya, kalaupun jadi diterapkan, cukai hanya akan diimplementasikan bagi plastik yang sulit didaur ulang saja.

"Kita akan implementasikan untuk plastik yang tidak ramah lingkungan seperti plastik-plastik hitam, kalau botol mi­numan belum," katanya.

Dia khawatir, jika diterapkan pada seluruh industri makanan dan minuman akan berpengaruh juga pada penerimaan negara dari pajak. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya