Berita

Foto/Net

Bisnis

Dirut Baru Pertamina Harus Terbebas Dari Kepentingan Kelompok

SELASA, 07 FEBRUARI 2017 | 10:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kalangan Dewan mewan­ti-wanti agar penunjukan dirut baru Pertamina nanti terbebas dari pengaruh kepentingan tertentu. Dewan tidak ingin perusahaan minyak negara itu menjadi sapi perah jika pengaruh kepentingan tertentu ikut menentukan bos barunya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR Mochamad Hekal menegaskan, posisi dirut Pertamina harus diisi oleh sosok internal dan harus bebas dari kepentingan dagang. Sebab, Pertamina ada­lah salah satu BUMN paling strategis.

"Pimpinan baru Pertamina harus bebas dari kepentingan dagang. Kepentingan yang harus diperjuangkan dirut baru Pertamina harus satu, yaitu kepentingan nasional," tegas politisi Gerindra ini, kemarin.


Dia menekankan, dirut baru harus benar-benar bisa menjaga Pertamina dari segi efisiensi dan meningkatkan kinerja produksi. Dirut baru Pertamina harus berusaha mengembang­kan perusahaan sehingga men­jadi kebanggan bangsa. Dirut Pertamina jangan dibebani dengan pikiran-pikiran lain yang membuat konsentrasinya buyar. "Rakyat dan negara harus jadi prioritas utama dirut baru," pungkas dia.

Di tempat terpisah, Wakil Komisi VII DPR Satya Widya Yudha meminta pemerintah tidak berlama-lama menun­juk dirut baru Pertamina untuk mengisi kursi kosong selepas pencopotan Dwi Soetjipto. Sebab, pelaksana tugas dianggap tidak memi­liki wewenang penuh untuk mengendalikan Pertamina yang begitu besar.

Untuk sosok yang bakal dipilih, politisi Golkar ini menyerahkan sepenuhnya ke­pada pemerintah. Dia hanya meminta agar dirut baru ada­lah orang yang betul-betul mengerti minyak dan punya kemampuan manajerial yang baik.

"Yang kami kehendaki ada­lah memilih seorang dirut yang betul-betul mumpuni, mem­punyai latar belakang yang cukup di bidang manajemen dan juga mumpuni di sektor minyak dan gas bumi. Kami tidak menginginkan dirut yang baru mengalami masa transisi yang lama dalam memimpin Pertamina," kata Satya.

Untuk mendapat sosok itu, Satya menyarankan pemerin­tah mengambil dari internal Pertamina. Sehingga, dirut baru itu sudah mengetahui seluk beluk perusahaan. Para pejabat di bawahnya juga tinggal mengikuti arah kebi­jakan perusahaan dari dirut baru. Sehingga mereka bisa langsung kerja, tanpa perlu masa transisi, apalagi penye­suaian.

"Jangan jadikan Pertamina ini sebagai industri trial and error dengan memilih orang yang tidak mengerti minyak. Kasihan industrinya," ujar Satya.

Soal pemberhentian Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang, Setya mengaku sedikit terkejut. Sebab, dia melihat kinerja Dwi selama ini cukup baik. Dalam dua tahun kepemimpinan Dwi, Pertamina mampu mencatat­kan kinerja positif. Bahkan, Pertamina mampu membu­kukan laba melebihi perusa­haan minyak milik Malaysia, Petronas.

"Pemutusan dan penggeseran dirut ini sangat anomali dengan kinerja Pertamina yang membumbung tinggi, dengan laba sekitar Rp 40 triliun. Angka ini melebihi Petronas," tandasnya. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya