Berita

Rini Soemarno/Net

Bisnis

Awas, Pemilihan Calon Bos Pertamina Sarat Kepentingan

Komisaris Dikasih Waktu 30 Hari Setor Nama
SENIN, 06 FEBRUARI 2017 | 09:44 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno memastikan jajaran Dewan Komisaris PT Pertamina Persero bergerak cepat melakukan seleksi calon Direktur Utama (Dirut) pengganti Dwi Soetjipto. Batas waktu yang diberikan pemerintah adalah 30 hari pasca-diberhentikannya dirut.

Rini mengatakan, calon orang nomor satu di perusahaan min­yak dan gas (migas) pelat merah itu diprioritaskan dari internal. Namun, tidak menutup kemung­kinan jika calonnya berasal dari luar Pertamina.

"Bisa saja calonnya dari luar, asalkan memenuhi kriteria dan lolos penilaian akhir," kata Rini di Jakarta.


Dilanjutkannya, sebagai BUMN, Pertamina akan men­jalankan pemilihan calon dirut dengan berpedoman pada good corporate governance.

Ada mekanisme yang harus dilalui dalam penunjukan direk­tur utama Pertamina.

Diterangkan Rini, Dewan Komisaris harus menulis surat dan beri usulan siapa saja nama yang diajukan kepada Kemente­rian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas dan perwakilan pemerintah.

Setelah lolos seleksi dan dis­etujui Menteri BUMN, nantinya nama akan diserahkan ke Presi­den Joko Widodo (Jokowi).

"Pada akhirnya, nama calon Dirut kami usulkan ke Presiden. Nanti Presiden yang akan me­nentukan," tutur Rini.

Sebagai regulator sekali­gus perwakilan pemerintah di BUMN, Kementerian BUMN juga bertugas mengevaluasi siapa orang dari luar Pertamina yang bisa memimpin Pertamina.

"Kalau dari saya belum ter­pikirkan. Tapi nanti akan kita evaluasi. Tapi saya serahkan ke Presiden. Biar nanti Presiden yang menentukan," ujar Rini.

Wakil Komisi VI DPR Azam Azman Natawijana khawatir, akan banyak kepentingan yang bermain dalam pemilihan Dirut Pertamina saat ini.

Karena itu, ia meminta semua pihak, termasuk DPR menga­wasi pemilihan ini.

"Kita khawatir, dirut Per­tamina ke depan hanya jadi kendaraan bagi oknum tertentu (mafia) yang ingin mengambil keuntungan dari Pertamina. Makanya, kita harus awasi, siapa-siapa yang nanti diajukan sebagai calon dirut. Harus jelas track recordnya," kata Azam kepada Rakyat Merdeka.

Ia tidak mempermasalahkan jika nantinya dirut diambil dari luar Pertamina.

"Kalau berkompeten dan be­bas kepentingan, kita dukung. Tapi tentunya harus lewat TPA dan finalnya di presiden," te­gasnya.

Harus Transparan


Direktur Indonesia Resource Studies (IRESS) Marwan Ba­tubara mengatakan, sebelum memilih dirut baru buat Per­tamina, pemerintah diminta transparan terkait pencopotan dua direksi tersebut.

Jika pemerintah tak melaku­kan itu, maka kepercayaan publik terhadap Kementerian BUMN bisa pudar.

"Ini harus dijelaskan ke pub­lik secara rinci. Jangan sampai terkesan ada yang disembunyi­kan, karena posisi Dirut di Per­tamina ini sarat kepentingan," kata Marwan.

Ia menilai, kinerja Pertamina dalam beberapa tahun terahir cu­kup baik, karena itu publik harus diberi kesempatan untuk tahu, apa sebetulnya yang terjadi.

Ia khawatir isu "matahari kembar" yang sebelumnya ramai diberitakan sengaja diembuskan oleh satu oknum untuk memu­luskan agenda tertentu.

"Untuk mengurangi spekulasi publik, kita meminta pemerintah juga menerapkan tata kelola komunikasi yang baik. Setelah memilih dirut baru, Kementerian BUMN juga harus memperhati­kan manajemen Pertamina agar bisa dikelola secara profesional," tegas Marwan.

Seperti diketahui, Direktur Utama Pertamina Dwi So­etjipto dan Wakil Dirut Ahmad Bambang diberhentikan mela­lui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Jumat (3/2).

Dalam rapat itu, RUPS juga menunjuk Yenny Handayani yang sebelumnya menjabat Direktur Gas dan EBTKE sebagai pelak­sana tugas (Plt) Dirut. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya