Berita

Foto/Net

Bisnis

Industri Perikanan Minta Bukti Alat Cantrang Rusak Lingkungan

SENIN, 06 FEBRUARI 2017 | 08:53 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pelaku industri perikanan me­minta pemerintah mengkaji ulang aturan yang melarang nelayan melaut menggunakan cantrang. Kebijakan tersebut berdampak negatif bagi dunia industri.

Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kon­disi ini sudah dirasa memberat­kan dunia usaha. Kadin meminta pemerintah segera membentuk tim independen beranggotakan wakil dari pemerintah, akade­misi, dan nelayan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto menjelaskan adanya tim dari berbagai latar belakang itu perlu dibentuk untuk mengkaji berbagai alat tangkap yang telah dilarang.


"Alat tangkap yang dilarang misalnya seperti pukat hela, pukat tarik, dan cantrang nah ini perlu dikaji oleh tim tersebut. Buktikan apa betul semua alat tangkap yang dilarang merusak lingkungan atau ada yang aman, itu kan bisa dibuktikan," tuturnya.

Dia melihat larangan peng­gunaan cantrang pada Permen No.2/Permen-KP/2015 dan Permen No.71/Permen-KP/2016 masih perlu dibahas. Penerapan aturan itu yang ada sekarang jus­tru bikin susah pelaku industri.

Lebih lanjut dia menjelaskan tentang kerja tim independen tersebut. Menurutnya andaikata pengoperasian berbagai alat tang­kap pukat hela dan pukat tarik termasuk cantrang terbukti bisa merusak lingkungan, maka tim independen itu perlu mencari alternatif alat tangkap pengganti yang tidak merusak lingkungan.

Di sisi lain, lanjutnya, para nelayan cantrang tetap meng­harapkan agar cantrang bisa dilegalkan secara nasional, atau paling tidak pelarangannya diundur lagi, dua sampai tiga tahun untuk penyesuaian.

Fakta di lapangan, pemerintah belum serius untuk memper­siapkan peralihan, termasuk menyediakan bahan baku jaring yang masih minim.

Sementara itu fakta di lapan­gan menunjukkan, kebijakan KKP melarang kapal ikan meng­gunakan cantrang mulai ber­dampak. Salah satu dunia usaha yang terkena dampaknya adalah pabrik surimi.

Ketua Umum Asosiasi Pengu­saha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP51) Budhi Wibowo menye­but peraturan ini telah merugi­kan banyak perusahaan.

"Ada sekitar 15 pabrik tutup sejak awal Januari 2017, mereka kekurangan pasokan produk­tivitas menurun ujungnya pabrik memilih berhenti beroperasi sampai batas waktu yang tidak ditentukan," katanya.

Dia menjelaskan pabrik ini memang membutuhkan bahan baku ikan berukuran kecil yang biasa ditangkap menggunakan alat tangkap yang lama. Kelu­arnya peraturan membuat ikan yang dicari jadi sulit didapat.

Melihat kondisi ini, AP51 mendesak agar KKP tidak melarang total pemakaian can­trang, tapi mengawasinya secara ketat dengan ukuran jaringnya minimum 2 inci.

"Nggak sembarangan ini ada 15 pabrik surimi di Pantura yang sudah berhenti. Kalau begini kasi­han para pekerjanya juga pada jadi pengangguran," ucapnya.

Ia menjelaskan, pembangunan pabrik-pabrik surimi ini telah menelan investasi sekitar 115 juta dolar AS dengan kapasitas penjualan senilai sekitar 200 juta dolar AS per tahun. Dengan berhentinya beroperasi, maka po­tensi penjualan itu akan hilang.

AP51 juga mendesak agar pemerintah segera membentuk tim independen yang berang­gotakan wakil dari pemerintah, akademisi dan nelayan untuk mengkaji berbagai alat tangkap pukat hela dan pukat tarik, ter­masuk cantrang yang dilarang dalam PermenKP No.2/2015 dan PermenKP No.71/2016.

Anggota Komisi IV DPR RI fraksi PKB, Daniel Johan menilai kebijakan KKP ini kontraproduktif dengan cita-cita pemerintah untuk pembangunan ekonomi. Kebijakan di sector kelautan dan perikanan saat ini malah memperburuk iklim bis­nis di sektor kelautan. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya