Berita

Politik

Aktivis Dituduh Makar, Apa Bedanya Dengan Rezim Orba

JUMAT, 03 FEBRUARI 2017 | 10:45 WIB | LAPORAN:

Jaringan aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) mendesak Presiden Jokowi untuk segera memerintahkan Polri beserta instrumen kekuasaan lainnya untuk secepat mungkin menyelesaikan kasus tuduhan makar para aktivis dengan profesional, transparan, adil dan manusiawi.

Prodem juga menuntut sebaiknya Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara mundur atau bersikap tegas terhadap pemberitaan yang tidak berimbang dan tendesius menyudutkan para tertuduh makar. Hal ini dikarenakan penangkapan para aktivis terkesan terburu-buru dan dipaksakan untuk melancarkan agenda tersembunyi kekuasaan.

"Pola semacam ini sangatlah membahayakan bagi transisi demokrasi di Indonesia yang mulai tumbuh," tegas Sekjen Prodem, Satyo Purwanto dalam keterangannya, Jumat (3/2).


Tuduhan makar itu menurut dia, seolah mengingatkan dengan rezim orde baru, di mana kebebasan menyatakan pendapat dianggap sebagai virus mematikan bagi pemerintah. Apalagi penetapan status tersangka terhadap para aktivis begitu cepat tanpa melalui proses yang transparan dan didasari bukti-bukti yang kuat. Bahkan beberapa aktivis langsung ditahan hanya karena subjektivitas Polri.

Sedangkan dalam kasus penistaan agama, kata dia membandingkan, terdakwanya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok masih saja bebas tanpa pengawasan.

"Padahal Ahok jelas-jelas sudah tersangka dan sangat membahayakan keutuhan NKRI, dan sudah beberapa kali mengulang dan membuat polemik yang mengancam disintegrasi bangsa," ujarnya.

Sementara itu, Menkominfo seharusnya responsif dengan memberikan informasi berimbang dan adil kepada masyarakat.

"Inikah yang dinamakan keadilan dan persamaan di depan hukum? Dimanakah letak profesionalisme Polri dalam menangani kasus ini?. Di mana kompetensi Menkominfo soal hal ini?" kritiknya.

Menurut Satyo, sudah saatnya Presiden Jokowi bersikap tegas terhadap para bawahannya yang tidak mampu lagi melaksanakan kerjanya sebagai instrumen pemerintah dan jangan membiarkan rongrongan dari dalam kabinetnya sendiri  yang justru akan meruntuhkan fundamental kekuasaan Istana.

"Jika hal ini dibiarkan terus terjadi, apalah bedanya dengan rezim orba terdahulu. Rezim otoritarian akan tumbuh dan akan mematikan konsolidasi demokrasi yang telah tumbuh," tutup mantan aktivis mahasiswa 98 ini.[wid]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya