Berita

Patrialis-SBY

Hukum

Demokrat: SBY Tak Asal Memilih Patrialis Sebagai Hakim MK

SENIN, 30 JANUARI 2017 | 18:16 WIB | LAPORAN:

Penunjukan Patrialis Akbar sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dari unsur Pemerintah kembali dipersoalkan. Karena SBY, Presiden saat itu, tak membentuk Pansel dalam penentuan Patrialis.

Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Didik Mukrianto, menjelaskan SBY tak asal pilih Patrialis.

"Terkait Pak Patrialis, tentu proses yang dilakukan saat itu bagaimana merekrut menyeleksi dan mengajukan. Pasti darinya jelas, parameternya jelas, terukur. Pak Partrialis secara integritas pada saat terpilih juga bisa diukur. Bicara kapabilitas, kapasitas Pak Patrialis Akbar tidak bisa diragukan," jelasnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (30/1).


Namun demikian, tentu yang harus disadari adalah sistem pengawasan yang ada di MK. Sistem pengawasan di MK ini juga harus terukur dan bisa dipastikan bahwa itu menjamin hakim MK tidak bisa diintervensi oleh kekuasaan manapun.

"Kita ingin siapapun hakim MK yang terpilih nanti terlindungi oleh sistem. Jadi orang yang baik orang yang sekiranya dipertanyakan integritasnya kapasitas dan kapabilitasnya ini semakin baik," jelasnya.

Pasalnya menurut dia, abuse of power pasti akan terjadi sampai kapanpun dan istitusi manapun.

"Persoalan rekrutmen sudah konkret tapi sistem menurut hemat saya harus diperbaiki. Karena hakim MK adalah pemegang palu terakhir dalam mencari keadilan dalam konteks judicial review," punkasnya.

Patrialis pernah dua periode menjadi anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (1999-2004 dan 2004-2009). Tahun 2009, Presiden RI ke-6 SBY mengangkatnya menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia hingga 2011. Selang dua tahun, Patrialis terpilih menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi periode 2013-2018. [zul]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya