Berita

Hasto/Net

Politik

Hadiri Haul Tokoh Surabaya, Hasto Banggakan Semangat Jaga NKRI

MINGGU, 29 JANUARI 2017 | 18:14 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menghadiri Peringatan Haul ke-4 Ayahanda Moch Mochtar, H Moch Jupri dan 2 tahun meninggalnya Ibunda, Hj Mukiyah.

Semasa hidupnya, Moch Jupri yang merupakan tokoh Surabaya banyak dikenang karena kebaikannya. Sama seperti ayahandanya, Moch Mochtar yang kini memimpin Gerakan Rakyat Surabaya (GRS) juga diakui ketokohannya, di Surabaya.

Hal itu bisa dilihat dari masyarakat yang hadir dalam acara haul, yang mencapai 1000 orang, di kawasan Bulak Banteng Kidul, Surabaya Utara, Jawa Timur, Minggu (29/1).


Selain Hasto, hadir dalam acara tersebut anggota Fraksi PDI Perjuangan Arteria Dahlan, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Kusnadi, dan sejumlah ulama dari Jawa Timur dan Madura, di antaranya Kyai Zainal Arifin, Kyai Sofyan, dan KH A'ad Ainurussalam.

Hasto yang didaulat memberikan sambutan mengaku bangga dengan masyarakat di Surabaya, khususnya para tokoh masyarakat dan ulama yang begitu gigih dalam menjaga NKRI.

"Sila ketiga Pancasila berbunyi persatuan Indonesia. Itu artinya Indonesia untuk semuanya, bukan untuk suku tertentu, bukan untuk agama tertentu. Semangat itu yang ditunjukkan Pak Mochtar, oleh para ulama di sini sehingga dengan penuh tekad dengan tegas menyatakan NKRI adalah harga mati," kata Hasto, dalam sambutannya.

Hasto mengungkapkan, semangat persatuan sudah dicontohkan oleh para pendiri bangsa dimana Bung Karno dan para tokoh Islam saat itu dalam merumuskan Pancasila dan UUD 1945 berangkat dari kesadaran bahwa bangsa ini penuh dengan keragaman suku dan agama.

Namun kini, ada segelintir gerakan yang mencoba mengusik keberagaman dan berupaya membenturkan kelompok nasionalis dan kelompok Islam. Padahal, sejak masa perjuangan dan meraih kemerdekaan, para tokoh bangsa baik dari kalangan nasionalis dan kelompok Islam yang dikedepankan adalah persatuan.

Namun melihat bagaimana semangat para ulama dan tokoh masyarakat di Surabaya yang begitu kuat komitmennya dalam menjaga NKRI, Hasto meyakini adanya upaya membenturkan anak bangsa tidak akan berhasil.

Tidak lupa, Hasto dalam sambutannya juga menyampakan terima kasih karena doa dan dukungan dari tokoh masyarakat terhadap perjuangan menjaga bangsa Indonesia yang penuh kebhinekaan dan keragaman.

"Persahabatan di sini sangat menyenangkan, saya selalu didoakan untuk kuat dan berani dalam menjalankan tugas, berjuang demi kebenaran," tukasnya.

Dalam kesempatan itu, Hasto juga menyampaikan bagaimana Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang akan terus berdiri kokoh menjaga keutuhan NKRI dan berada di garda terdepan dalam mensukseskan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Presiden Jokowi selalu blusukan, sakit kepala beliau kalau tidak ketemu rakyat, sakit kepala kalau tidak berupaya mempercepat pembangunan. Dan dalam upaya itu, Ibu Mega selalu mengatakan, selalu berdiri kokoh menjaga pemerintahan Presiden Jokowi," tegasnya.

H Moch Mochtar dalam smabutannya banyak menyoroti soal bagaimana pentingnya persatuan bangsa, menjaga dan memelihara apa yang sudah digagas oleh para pendiri bangsa. Dia mengingatkan para ulama dan kyai jangan mau diadu domba oleh kelompok yang ingin memecah belah bangsa Indonesia.

"Saya yakin kalau negara masih berazaskan Pancasila, semuanya bisa diatasi di bangsa ini," katanya.

Mochtar mengatakan, di sila keempat Pancasila berbunyi 'kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan'.

"Itu artinya kita itu terpimpin. Makanya kita harus mengutamakan musyawarah, menghormati pemimpin kita. Jangan mencela pemimpin, itu tidak sesuai Pancasila," jelasnya.

Kemudian sila kelima Pancasila berbunyi 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'.

"Artinya sesama manusia, apalagi sesama Indonesia, sema sama harus mendapatkan keadilan. Negara ini sudah merdeka, jangan dikoyak oleh siapapun. Jangan pernah, alim ulama diadu domba, dengan siapapun. Jangan dibikin ruwet negara ini. Siapapun yang meneror negara ini, yang mengganggu NKRI, kita jadikan musuh bersama," tegasnya. [ian]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Sidang 6 Agustus Bukan Kemenangan yang Dianulir

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:05

Jakarta Libatkan Kawasan Aglomerasi dalam Lestarikan Budaya Betawi

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:01

Pengurangan Timbulan Sampah Plastik Bisa Dimulai dari Pasar Tradisional

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:44

Timnas Garuda Bidik Tiga Poin dari Timor Leste

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:17

Hariman hingga Bursah Zarnubi Ramaikan Peluncuran Enam Buku Isti Nugroho

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:00

Wakapolri-Wamenhut Konsolidasi Hadapi El Nino dan Karhutla

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:23

Pembunuh Perempuan di Kamar Kos di Grogol Petamburan Dibekuk

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:13

Fahira Idris Sodorkan Tujuh Rekomendasi Bangun Jakarta

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:02

Kawasan Transmigrasi Harus Punya Daya Tarik Investasi

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:39

Peluncuran Enam Buku

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:28

Selengkapnya