Berita

Ilustrasi/net

Politik

Stop Reklamasi Itu Mungkin

KAMIS, 26 JANUARI 2017 | 20:37 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

KEMARIN malam, 25 Januari 2017, saya menghadiri diskursus terbuka Mahfud MD di Yayasan Kelirumologi. Temanya seputar UUD 45. Di saat bersamaan, acara talk show "Mata Najwa" tayang di MetroTv. Tamunya, Paslon Anies-Sandi.

Saya sedang memboikot stasiun televisi ini. Salah satu program yang paling tidak saya sukai ya acara Mata Najwa ini. Jadi, sekali pun tidak ada acara Mahfud MD, saya tidak akan menonton Mata Najwa secara live. Program ini disinyalir berpihak secara tidak proporsional kepada Paslon Ahok-Jarot. Itu alasan utama saya menolak program Mata Najwa.

Bagi saya jurnalisme harus berpihak kepada warga. Bukan kepada kekuasaan atau pemain politik tertentu.


Benar saja, saat acara ramah tamah, kampiun kemanusiaan Sandyawan Sumardi mengatakan dia diberitahu Anies "dikerjain" di acara Mata Najwa. Tadi pagi, cici saya menyatakan hal serupa. Dia tidak menonton acara talk show namun kabar soal itu berserakan di sosmed, ditebar oleh Ahoker.

Seorang teman dari timses nomor 3 kirim potongan video acara semalam itu. Saya tonton berulang-ulang. Saya sulit temukan celah kelemahan Anies-Sandi.

Kita mencari pemimpin, bukan pekerja. Komika Panji menganalogikan pemimpin (gubernur) sebagai arsitektur. Bukan tukang bangunannya. Gubernur adalah pemimpin, bukan pekerja, kerja, kerja, kerja tanpa berpikir.

Panji mencari pemimpin yang menyatukan, bukan mengkotak-kotakkan masyarakat. Sesuai dengan kostumnya.

Jika Panji bicara dalam tataran idealistik dan paradigma, Bambang Widjoyanto (BW) bicara konkretnya.

Menurut BW, tidak ada satupun dari 17 gubernur Jakarta yang punya program wirausaha. Baru Anies-Sandi yang mampu memikirkan dan sudah melakukan program penciptaan 200 ribu pebisnis baru.

Pengangguran Jakarta menembus 5.7 persen di atas angka pengangguran terbuka nasional 5.5 persen. Ahok tidak urus soal kesejahteraan. Terlalu sibuk "bersolek".

Lantas saya baca ulasan Saudara Ardi Januar seputar acara semalam. Saya tidak kenal secara personal dengan penulis ini. Tapi saya kira dia hebat. Dia cerita seputar "serangan" Najwa terkait isu relasi Anies dan FPI, persoalan stop reklamasi dan sebagainya. Bagi Ardi, Anies-Sandi bikin redup bintang Najwa.

Soal FPI dan Anies, pertama kali isu ini digoreng Denny JA dari LSI. Setelah beredar foto mesra Habib Rizieq dan Anies.

Di situ, kurang-lebih, Denny JA mem-bahasa-kan opini netizen yang menuding Anies memasang topeng simpatik. Padahal di balik topeng itu, ada muka seram kekerasan. Dan itu semua hanya gara-gara Anies berhubungan baik dengan Habib Rizieq.

Setau saya, Budayawan Jaya Suprana juga pernah berfoto bareng dengan Habib Rizieq. Jika opini Denny JA benar, maka di balik penampilan humanis dan humoris Jaya Suprana tersimpan wajah bengis bak dracula, hanya karena berhubungan dengan Habib Rizieq.

Saya kira, Habib Rizieq hanya seram dalam media-media propaganda anti-islam. Nyatanya, Habib Rizieq adalah seorang ulama yang santun, ramah, dan cerdas.

Selain berhubungan baik dengan banyak ulama, Anies juga dekat dengan minoritas Tionghoa. Dia datang ke rumah duka Beni G Setiono, pendiri Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) yang wafat. Fotonya beredar di sosmed. Tapi tidak digoreng bahwa Anies seorang moderat yang menjaga kebhinekaan.

Anies-Sandi menjawab dengan baik "serangan" Najwa perihal program Stop Reklamasi.

Sandi menerangkan soal klausul pembatalan yang selalu ada dalam sebuah perjanjian jual-beli. Ini tekhnis pembatalan yang dipertanyakan Najwa. Namun sayang, ternyata soal ini belum dipahami secara crystal-clear oleh banyak orang.

Seorang teman, Muhamad Adi, mengulangi keraguannya terhadap janji Anies-Sandi soal Stop Reklamasi. Idola saya, Zara Zettira pun menyatakan tidak mungkin reklamasi dihentikan.

Bagi saya, dalam politik, tidak ada yang mustahil. Terkait Stop Reklamasi, ada dua faktor: Willingness Gubernur dan Kekuatan Rakyat.

Dulu, ada tekad rakyat menolak reklamasi. Namun tidak ada itikad Gubernur Ahok menghentikan proyek reklamasi. Kolaborasi taipan, Ahok dan uang sanggup mematahkan suara rakyat.

Bila kedua faktor di atas (Willingness Gubernur dan Kekuatan Rakyat) bisa bersinergi, Insya Allah kekuatan taipan reklamasi bisa ditumbangkan. Dengan demikian, Stop Reklamasi menjadi sesuatu yang sangat mungkin.

THE END

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya