Berita

Rumah Kaca

RESENSI BUKU

Tuhan Maha Asyik

SELASA, 24 JANUARI 2017 | 22:09 WIB



Penulis   : Sujiwo Tejo & Dr. MN. Kamba
Penerbit : Imania
Terbit     : Desember, 2016
Harga     : 59.000

Harga     : 59.000

TUHAN sangat asyik ketika Dia tidak kita kurung paksa dalam penamaan-penamaan dan pemaknaan-pemaknaan. Dia tak terdefinisikan, tan keno kinoyo ngopo. Dia tak terkmaknakan. Dia ada sebelum definisi dan makna ada. Tuhan itu anti mainstream. Tuhan itu Maha Asyik ketika kita men-taddaburi-Nya, bukan melogikakan-Nya. Dengan mencampakkan kesombongan dan taklid pada kerendahan hati. Ke manapun kita memandang, di situlah wajah Tuhan.

Sebagai bangsa ber-Ketuhanan yang Maha Esa, saat berniat melakukan reformasi atau islah, ternyata kita melupakan yang paling --atau minimal termasuk yang paling-- pokok. Yaitu mereformasi pandangan kita tentang Tuhan. Ketika kepentingan duniawi  menguasai dan menyibukkan kita, berangsur-angsur Tuhan pun 'tersisih' dari perhatian kita. Kita merasa cukup sudah bertuhan hanya dengan doktrin yang kita dengar dari mulut ke mulut atau teks yang kita baca. Berpikir--seperti yang sering dianjurkanNya--jarang kita lakukan sebagai upaya lebih mengenalNya. 

Banyak orang bertuhan tanpa mengenal Tuhan dan tanpa berusaha mengenalNya. Bahkan belakangan karena presepsi dan tingkah-laku mereka ini, Tuhan pun terkesankan 'Maha Menyusahkan' atau 'Maha Pemarah' dan agamaNya terkesankan sulit dan berat.

Dalam beriman membutuhkan cara berpikir, bertindak, bernalar yang santai. Tuhan Mahatahu dan Maha Rahim  karena sifat Tuhan seperti itu dia tidak mengadili orang berdosa. Beriman dengan santai berarti beragama secara otentik yakni orang jujur dirinya dan Dia  tidak memanipulasi keberagamaan yang hanya mencari untung dirinya sendiri.

Beriman adalah belajar melihat realitas dunia bukan sisi gelap dan terang. Beriman memberi dirinya bagi terciptanya damai yang sejati. Keberimanan berarti membangun kesadaran. Membangun kesadaran keberagaman harus menjadi prioritas. Keberagamaan jangan sekadar berwajah kesalehan individual, tetapi juga sosial. Kaum beragama tidak boleh menghardik umat dari agama lain. Itulah wajah agama yang manusiawi karena berorientasi altruistik, bukan egoistik. Maka, tiap ibadah harus lebih dilandasi sikap hati yang tulus untuk memberi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan.

Beriman berarti mencinta kehidupan karena kehidupan adalah rahim cinta. Dia memberikan dirinya bagi kebahagiaan sesama karena beriman secara sukarela bukan model paksaan. Agama sejati mengajak setiap orang berperilaku jujur dan mau mengampuni. Tuhan Mahabesar. Seorang beriman tidak bisa diukur dari panjangnya doa, dari hal-hal formalisme. Tuhan hanya menginginkan manusia selalu mencintai dengan kesadaran dan menghilangkan kecurigaan dan kebencian.

Buku Tuhan Maha Asyik menggambarkan konsep mengenal Tuhan secara menyeluruh (holistik), yang notebene membutuhkan pengkajian dan pemahaman mendalam, namun di buku ini di sajikan secara renyah” dan mudah dimengerti dalam bentuk dialog kanak-kanak sehari-hari, dan kontekstual dengan kebudayaan masyarakat Indonesia, khususnya budaya spiritual.

Lewat kisah-kisah singkat dan berbagai analogi yang mengena, buku ini mengajak kita meluaskan hati dan pemikiran untuk menampung ide tentang ketuhanan dan keagamaan yang lebih lapang, dan tentunya yang lebih asyik. Siapapun dan apa pun latar belakang paham keagamaannya, selama masih punya hati, akan mendapatkan pencerahan dalam pemahaman keagamaan dan akan memandang bahwa keberagaman dalam beragama adalah suatu keniscayaan yang sebetulnya mampu menciptakan keindahan dan harmoni dalam kehidupan dari buku ini.

Buku yang asyik karena membicarakan wajah Tuhan” dengan cara memuliakan Tuhan Yang Maha Asyik dan menyeret kita untuk menthawafi pengalaman Tuhan yang mengasyiki hamba-hamba-Nya.

Buku ini hadir di saat yang tepat, di saat bangsa ini dilanda dengan intoleransi, kebencian, syak wasangka antar sesama anak bangsa yang acapkali membajak ‘Tuhan’ untuk politik jangka pendek dan kepentingan golongan tertentu. Buku ini bisa menjadi cermin yang akan mengoreksi bahkan menampar sikap beragama kita. [***]

Faried Wijdan
Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

KPK Tak Gentar Hadapi Praperadilan Mantan Waka PN Depok

Minggu, 03 Mei 2026 | 20:19

Ordal, pada Perspektif Rawls

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:54

KPK Telusuri Duit Panas Cukai ke Pengusaha Rokok

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:23

DPR Geram Ada PRT Tewas: Negara ke Mana?

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:17

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut akibat Perang Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:03

Renault Triber 2026, Sensasi Mobil Keluarga Rasa Eropa Harga Rp 106 Jutaan

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:01

Trump Ragu Terima 14 Syarat Damai Baru dari Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:33

DPR Ungkap Ada Skenario Damai di Balik Kasus PRT Tewas di Jakpus

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:09

Andi Arief Ingatkan Militer Masuk Pemerintah karena Sipilnya Koruptif

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:59

Menlu AS Sambangi Vatikan usai Perseteruan Trump dan Paus Leo XIV

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya