Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Kontradiksi Kelas

SABTU, 21 JANUARI 2017 | 09:04 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

KEMARIN, 19 Februari 2017, in my way to Vihara Ekayana Graha, saya lewat Tanjung Duren Utara. Kawasan orang kaya. Rumahnya gedongan. Upper Middle Class. Banyak spanduk Paslon Badja.

Sementara di gorong-gorong gang tikus, tidak ada spanduk Badja. Cuma ada spanduk Anies-Sandi dan Agus-Silvi. Ahok Jarot disinyalir juga menang di apartemen-apartemen, mall, fitnes centre dan tempat kursus pilates.

Pro-kontra Ahok menyeret kontradiksi kelas. Si miskin, proletar, dan golongan menengah ke bawah bersikap anti Ahok. Sebaliknya, kaum borjuis bangkrut moral, ex pejuang buruh, komunis elit, analis gadungan, pegiat sosmed madness militan pro Ahok.


Khusus komunitas Tionghoa disinyalir ada sekitar 70% dukung Ahok. Terutama "cina-kristen"-nya. Dengan demikian, kontradiksi kelas paralel bisa in-line dengan antagonisme rasial.

Aneh, tiba-tiba saja komunitas minoritas ini jadi aktif berpolitik. Di titik ekstrim, mereka berlagak paling piawai ngomong masalah negara dan politik. Sudah lebih dari 30 tahun, mereka tidak begitu. Pasca BAPERKI dan PKI dihabisi dari panggung politik nasional. Seiring naiknya Ahok jadi gubernur, arogansi orang-orang Tionghoa tajir ini pun naik.

Anak-anak mereka ngamuk di sosmed. Mereka cibir orang-orang miskin dan slum area. Mereka membenarkan praktek penggusuran ganas yang dilakukan Ahok terhadap lebih dari 10 ribu KK.

Dalam sebuah video klip rap hip hop, begundal Ahoker bahkan berani meledek habaib. Jaya Suprana disebut "cina pengecut" oleh akun anonim bernama Bengcu. Lieus Sungkharisma kerap mendapat telepon gelap dan sering dimaki sebagai "penghianat cina" (hanjian). Demikianlah kelakuan anak-anak ingusan ahoker.

Anak-anak vandal ini suka bikin hoax. Mereka bilang Ahok bikin kali jadi lebar. Dari 5 meter, jadi 30 meter. Karena itu, menggusur tanpa dialog apalagi kompensasi adalah tindakan benar. Padahal, metodologi "pelebaran" bisa saja diganti "pengerukan". Pola ini mampu menampung debit air. Ini juga merupakan bentuk lain dari tehnis normalisasi sungai. Sehingga penggusuran inhuman bisa diminimalisir.

Penggusuran Ahok sarat kekerasan. Korbannya banyak. Bikin sakit hati. Ciptakan dendam sosial. Dilakukan dengan paksa. Demi kenikmatan mata borjuis bangkrut moral dan anak-anak mereka.

Directly or not, borjuis (termasuk Tionghoa) dan anak-anak mereka mendukung kekerasan terhadap masyarakat. Sudah selayaknya orang-orang Tionghoa mawas diri. Berhenti bersikap jumawa. Berperilaku sok paling jago berpolitik. Stop mengira Ahok itu membanggakan. Stop merasa kekuasaan Ahok dan genk-nya akan bersifat permanent. Jangan menciptakan ketegangan dan dendam sosial dengan bertindak unfair.

Jangan pula berperilaku seolah merasa paling berjasa di negeri ini. Faktanya, peran komunitas Tionghoa dalam proses kemerdekaan tidak terlalu signifikan. Ada, tapi tidak sebesar laskar-laskar pribumi.

Yang paling penting, stop arogansi. Dahulu, Yap Thiam Hien dikucilkan saat BAPERKI dominan karena berada di Barisan Sukarno dan PKI. Begitu angin politik berubah atau rezim berganti, ternyata, Yap berada di pihak yang benar. [***]

Penulis adalah pemerhati masalah-masalah perkotaan.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya