Berita

Politik

Zero Value Sri Mulyani

KAMIS, 19 JANUARI 2017 | 08:21 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

PENGETATAN anggaran (austerity) adalah resep yang tidak pernah berhasil dari mazhab ekonomi neoliberal. Di negeri-negeri Eropa yang sedang terlanda krisis, austerity yang dipaksakan oleh Troika (Bank Dunia, IMF, dan Uni eropa) malah semakin memperburuk perekonomian dalam negeri. Anehnya, meskipun terbukti telah gagal di Eropa, resep pemotongan anggaran ini kembali diterapkan di Indonesia oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) sejak bergabung dalam Kabinet Presiden Jokowi pada Agustus 2016.

Dengan melakukan berbagai pemotongan anggaran di APBN 2016, yang jumlahnya mencapai Rp 133,8 triliun, sama artinya SMI mempersempit ruang gerak perekonomian Indonesia ke depan. Akibatnya akan sangat banyak program-program pembangunan fisik (infrastruktur) dan pembangunan manusia yang mangkrak. Salah satu yang hampir pasti akan mangkrak adalah program andalan Presiden Jokowi membangun Poros Maritim.

Bila masalahnya adalah kurangnya (shortfall) penerimaan perpajakan, seharusnya SMI dapat lebih kreatif dalam mencari sumber pendanaan/penerimaan (Tax Amnesty pun sebenarnya bukan ide SMI, karena sudah terlontar jauh sebelum SMI bergabung dalam kabinet). Sebagai ekonom yang sejati, SMI seharusnya dapat menciptakan nilai tambah dari berbagai potensi perekonomian Indonesia yang selama ini terpendam. Hanya sayangnya memang SMI bukanlah tipikal ekonom yang mampu kerja”.


Menurut kesaksian seorang ekonom senior yang pernah menjadi mentor SMI, SMI memang bagus dalam menulis dan berpidato, tapi tidak bisa kerja”. Di kalangan perbankan juga rekam jejak SMI sebagai ekonom yang tak mampu kerja” sudah menjadi buah bibir sejak lama.

Bila tidak kreatif dalam mendorong perekonomian, hanya berpedoman pada prinsip kuno business as usual, maka perekonomian hanya akan tumbuh di kisaran 5,0-5,3% tahun ini.

Namun, bila tim ekonomi dapat lebih kreatif, menciptakan banyak terobosan, maka pertumbuhan akan dapat menembus 6,5%. Hanya sayang SMI bukanlah tipe pejabat yang percaya pada terobosan. Hal ini diakuinya sendiri dalam pidatonya di Fakultas Ekonomi UI tanggal 26 Juli 2016, sehari sebelum masuk Kabinet Jokowi.

Biang Masalah Utang Luar Negeri

Kini tentang utang luar negeri. SMI seringkali mengeluh bahwa sistem APBN Indonesia tidak sehat karena sudah sampai tahap berutang untuk bayar bunga utang”. Dikatakan oleh SMI, telah terjadi defisit dalam keseimbangan primer, yang berarti kita meminjam untuk keperluan men-service utang masa lalu.

Namun, bukankah tingginya utang masa lalu kita adalah juga kesalahan SMI juga, yang pernah menjabat Menteri Keuangan sejak 2006 hingga 2010? Berdasarkan data dari Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan (2011), total penerbitan Surat Berharga Negara/SBN (bruto) sejak tahun 2006 hingga tahun 2010 adalah sebesar Rp 473,3 triliun.

Dengan bunga SBN yang termasuk tinggi di era SMI menjabat Menkeu 2006-2011, seharusnya dari total utang luar negeri dalam bentuk SBN di akhir 2016 yang mencapai Rp 2.700,82 triliun, sumbangan SMI mungkin mencapai 40%-nya.

Tentang bunga SBN yang tinggi ini pun SMI memiliki cerita. Karena kemurahan” hatinya pada investor, SMI pun diganjar berbagai penghargaan internasional dan tak pernah absen masuk ke dalam tokoh yang berpengaruh di dunia. Contohnya, menurut catatan Direktur CEDeS Edy Mulyadi, pada 2008 SMI menerbitkan global bond dengan bunga sebesar 6,95%, menjadi yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN.

Padahal saat itu Malaysia hanya memasang bunga 3,86%, Thailand 4,8%, bahkan Filipina (yang saat itu dikatakan sebagai The Sick Man of Asia) memasang bunga sebesar 6,5%. Kemudian, pada 2009 SMI kembali menerbitkan global bond dengan bunga super tinggi, mencapai 11,75%. Padahal saat itu Filipina hanya pasang bunga 8,5%. Bunga Indonesia saat itu hanya kalah sedikit dari Pakistan, negara yang setiap hari diguncang bom, yang memasang 12,5%.

Kesimpulannya, SMI sebenarnya adalah bagian dari masalah negeri ini. Dirinya tidak pernah menjadi bagian dari solusi, apalagi terobosan. Satu-satunya harapan adalah kabar bahwa SMI sangat dekat dengan pemerintahan Amerika Serikat, tapi ini pun menjadi pupus setelah kemenangan Trump (karena kabarnya SMI dekatnya dengan geng Clinton). Jadi praktis keberadaan SMI di kabinet Indonesia saat ini sudah tidak ada nilainya lagi, alias zero value. ***

Penulis adalah peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP)

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya