Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Tekan Nasionalisme, Pemerintah Harus Sokong Pengusaha Pribumi

MINGGU, 08 JANUARI 2017 | 16:22 WIB | LAPORAN:

Pemerintahan Presiden Joko Widodo diminta untuk menyokong dan berpihak kepada para pengusaha pribumi Indonesia, agar kekayaan dan uang Indonesia tidak terus-terusan dibawa dan dinikmati oleh para pengusaha asing ke luar negeri.
 
Ketua Umum Forum Pengusaha Pribumi Indonesia (FORPPI) Akmad Maruf Maulana menyampaikan, kapasitas dan kapabilitas pengusaha pribumi sangat mumpuni. Karena itu, agar keuntungan dalam berusaha tetap bisa dinikmati oleh warga negara Indonesia di dalam negeri, pemerintah perlu memberikan perhatian dan memastikan keberpihakannya kepada pengusaha pribumi.
 
Menurutnya, penguasaan asing pada perekonomian Indonesia sudah sangat mendomisasi. Hal itu, antara lain bisa dilihat pada Bursa Efek Indonesia. Data BEI menunjukkan hingga 60 persen dana yang berputar di bursa merupakan dana asing.
 

 
"Sebagian besar keuntungan hasil usaha di Indonesia justru lari ke luar. Sampai kapan kondisi ini akan terus terjadi? Indonesia akan untung kalau porsi dana dalam negeri bisa lebih besar,” ujar dia kepada redaksi, Minggu (8/1).
 
Kini, lanjut dia, hal yang paling mencemaskan adaalah ketimpangan penguasaan aset. Hingga 70 persen aset kekayaan Indonesia dikuasai oleh hanya 1 persen penduduk. "Ketimpangan itu sangat bertentangan nilai Pancasila, keadilan sosial,” kata dia.
 
Maulana menyatakan, Forppi juga khawatir dengan pemerintah yang sangat agresif menarik investasi asing dibanding memberdayakan pengusaha dalam negeri. Karpet merah diberikan kepada investor asing.
 
"Pengusaha pribumi mau berusaha banyak sekali hambatannya. Bunga bank tinggi, perizinan berbelit, macam-macam halangannya,” ujarnya.
 
Kondisi itu tidak akan terurai selama tidak ada ada kebijakan afirmatif terhadap pengusaha pribumi. Kebijakan yang lebih menguntungkan warga sendiri lazim diterapkan di banyak negara. WTO sekalipun memberikan peluang negara melakukan hal itu. Padahal, WTO itu organsasi yang mendorong perdagangan dan persaingan bebas lintas negara,” tuturnya.
 
Maulana menjelaskan, DPR pernah mewacanakan undang-undang soal keberpihakan pada pengusaha pribumi. Namun, sampai sekarang kelanjutan wacana belum jelas.
 
"Dasar pikirannya amat jelas dan penting, semakin banyak investor asing masuk ke Indonesia. Masalahnya, banyak di antara mereka terlibat di perekonomian nasional dengan cara curang,” kata dia.
 
DPR antara lain mendapat laporan tentang WNA yang mengaku WNI saat mendirikan perusahaan. Kebohongan itu untuk masuk ke sejumlah bidang usaha dalam daftar negatif investasi asing.
 
"Kalau tidak ada peraturan jelas, kondisi ini akan terus terjadi,” ujarnya.
 
Dalam berbagai kesempatan, lanjut Maulana, banyak pihak sepakat Indonesia butuh lebih banyak wirausaha untuk mendorong pertumbuhan perekonomian. "Kesadaran itu menunjukkan pentingnya keberpihakan pada pengusaha pribumi. Semakin banyak pengusaha, negara semakin untung,” kata dia.
 
Maulana mengatakan, pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean, maupun AFTA sudah mulai berjalan dalam beberapa tahun terakhir. Namun faktanya, kondisi ini malah membuat para pengusaha pribumi yang sudah berkiprah lama dalam dunia usaha semakin terisisih.
 
"Kondisi saat ini, para pengusaha lokal dan pribumi semakin memperihatinkan. Perannya dalam perekonomian daerah dan nasional semakin tersisihkan oleh serbuan pengusaha asing diberbagai sektor,” tandasnya. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya