Berita

Foto/Net

Bisnis

Presiden Dorong Pengembangan EBT

Sidang Dengan DEN
JUMAT, 06 JANUARI 2017 | 10:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Presiden Jokowi kemarin menggelar sidang paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) di Istana Kepresidenan. Yang dibahas dalam pertemuan tersebut antara lain pengem­bangan energi baru terbarukan (EBT), dan proyek 35 ribu Mega Watt (MW).

Jokowi meminta, pengem­bangan EBT terus ditingkat­kan. Langkah itu, menurut­nya, sangat diperlukan untuk mengurangi impor dan meng­gantikan bahan bakar berbasis fosil.

"Saya kira semua tahu 50 persen BBM (bahan bakar min­yak) kita masih tergantung im­por. Saya kira ke depan sangat berbahaya sekali apabila kon­disi ini masih kita pakai terus menerus," ungkap Jokowi.


Jokowi ingin ke depan di­lakukan riset besar-besaran untuk pengembangan EBT. Semakin banyak riset, diharap­kannya diraih penemuan atau cara baru dalam mempercepat kemandirian energi nasional.

"Saya kira seperti penemuan shale gas di Amerika Serikat, saya kira terobosan seperti itu yang kita inginkan. Misalnya, CPO (crude palm oil) dengan produksi, dengan hutan kelapa sawit kita yang mencapai 13- 14 juta hektare, saya kira ini memberikan sebuah peluang kepada kita untuk memproduk­si energi," ungkapnya.

Soal proyek 35 ribu MW, Jokowi meminta dilakukan penghitungan ulang. Pasalnya, terdapat penghitungan berbeda mengenai praktik yang terjadi di lapangan dengan pertumbu­han ekonomi di Tanah Air.

Menurut Jokowi, jika proyek 35 ribu MW ini rampung pada 2019, maka Indonesia akan memiliki kelebihan kapasitas listrik sebanyak 16 ribu MW. Kelebihan kapasitas tidak masalah, asalkan kelebihan­nya tidak terlalu besar. Sebab, jika kelebihan kapasitas ter­lalu besar maka akan terjadi pemborosan di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Untuk diketahui, setiap kelebihan ka­pasitas 1.000 MW, maka PLN harus membayar sekitar Rp 1,8 triliun kepada perusahaan pembangkit.

Jokowi menambahkan, saat ini konsumsi listrik per kap­ita di Indonesia juga masih rendah dibanding negara ASEAN lainnya. Di Viet­nam, konsumsi listrik per kapita sudah 1.795 kilowatt hour (kWh), Singapura 9.146 kWh, sementara Indonesia baru sekitar 917 kWh. Seperti diketahui, Kementerian Ener­gi dan Sumber Daya Mineral menghitung kebutuhan energi sampai 2019 hanya sekitar 19 ribu MW.  ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya