Berita

Nasaruddin Umar/Net

Merawat Toleransi (18)

Mencermati Eksodus Muslim Ke Dunia Barat

SELASA, 13 DESEMBER 2016 | 08:26 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

PERANG saudara yang berkecamuk di sejumlah dunia Islam seperti di Syiria, Iraq, Afganistan, Libya, dan se­jumlah negara lain, mem­buat sebagian umat Islam eksodus ke beberapa neg­ara tentangga dan ke neg­ara-negara Barat seperti di Eropa, AS, Kanada, dan Amerika Latin, Australia, Turki, Rusia, dll. Ek­sodus besar-besaran umat Islam ke negera-negara non-muslim, dianalisis oleh sejumlah pengamat, termasuk Murad W. Hofmann, man­tan Direktur Informasi NATO, dalam bukunya "Religion on the Rise, Islam in the Third Mil­lennium" dan Olivier Roy dalam bukunya "Gol­balised Islam, The Search for A New Ummah". Kedua pengamat ini melihat bahwa dampak eksodus yang dipicu oleh berbagai krisis, ter­masuk krisis ekonomi dan politik, memberikan dampak hegemoni multi dimensi di negara-negara tujuan. Tentu saja dampak tersebut ada yang positif dan ada yang negatif.

Negara-negara tempat tujuan lahir generasi kedua mereka yang tetap beragama Islam (the western-born and the second-generation mus­lim). Dari manapun dan di manapun komunitas Islam itu berada selalu menciptakan lingkungan sosial unik karena mereka memiliki simbol-simbol perekat (melting pot) berupa mesjid, halal food, pendidikan dasar keagamaan untuk anak-anak mereka, dan majlis taklim untuk para orang tua, bahkan terakhir ini memiliki media telivisi dan me­dia sosial lainnya, yang bisa lebih merekatkan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan terjadi hubungan akrab antara muslim pendatang den­gan muslim lokal sedemikian kuat, yang ditan­dai dengan lahirnya berbagai produk yang saling menguntungkan satu sama lain.

Di antara fenomena khusus dapat disaksikan ialah keterikatan mereka dengan negara asal sangat kuat karena tokoh-tokoh keagamaan kharismatik dari negerinya tetap dijalin. Bah­kan secara periodik mereka menziarahi tokoh tersebut atau tokoh spiritual itu didatangkan ke negeri baru ini untuk memberikan pencerahan kepada segenap warga muslim, baik generasi awal maupun generasi kedua. Yang lebih me­narik ialah generasi kedua muslim ini dituntut oleh negeri baru ini untuk memberikan loyali­tas penuh sebagaimana halnya warga lainnya yang lahir di negeri asal masing-masing.


Perkembangan menarik untuk diamati ialah satu sisi secara emosional dan spiritual warga muslim masih tetap terikat dengan negeri asal, tetapi secara hukum ketatanegaraan setempat mengharuskan mereka untuk sepenuhnya loyal kepada negara barunya. Kenyataan umat Islam di negera "kedua" ini membayar pajaknya ke­pada negara di mana mereka berdomisili, tetapi zakat harta, waqaf, infaq, dan shadaqah, bah­kan terkadang hewan qurban dan aqiqah serta dam masih disalurkan kenegeri asal leluhurnya. Tidak sedikit dana yang diperoleh di negeri baru dialirkan ke negeri asalnya karena mereka yakin lebih afdhal memberikan waqaf dan zakat harta ke negeri asalnya ketimbang di negeri barunya. Belum lagi keterikatan emosional dengan keluar­ga leluhurnya, misalnya masih sempat memban­gunkan rumah orangtuanya yang masih hidup di negeri asal, merehab sekolah dan masjid yang pernah menempanya, dan lain-lain, mereka kem­balikan ke negeri asalnya. Bahkan, sebagian di antara mereka masih menyerahkan binatang kurban dan kambing 'aqikah ke negerinya. Se­bagian juga menginvestasikan keuntungannya di negeri sendiri karena mungkin masih ada hara­pan untuk menjalani masa pensiun atau mau mati di negeri asal mereka.

Fenomena kaum migran muslim seperti tersebut di atas umumnya masih berlangsung hingga sekarang, kecuali beberapa warga yang sudah kehilangan kampung halaman di negerinya, seperti warga Palestina, Rohingya, Bosnia, yang kampung serta propertinya sudah hilang. Yang terakhir ini memilih untuk membangun ko­munitas khusus di negeri keduanya. Mungkin fenomena baru akan muncul, jika generasi per­tama sudah pergi dan tinggal hanya generasi lapis kedua, ketiga, dan seterusnya, yang su­dah lahir dan berbudaya setempat, meskipun masih tetap beragama Islam, tetapi jalan pikiran dan prilakunya lebih diwarnai oleh budaya barat (westernized). ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya