Berita

Hukum

Setara Institute Terus Suarakan Pencopotan HM Prasetyo Sebagai Jaksa Agung

SENIN, 12 DESEMBER 2016 | 17:45 WIB | LAPORAN:

Setara Institute terus mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera mengganti Jaksa Agung HM Prasetyo.

Pasalnya tak ada prestasi yang ditorehkan politikus Partai Nasdem tersebut hingga saat ini. Bahkan dia lebih berperan sebagai politisi ketimbang jaksa yang profesional.

"Kita dari dulu minta Prasetyo diganti, karena tidak perform. Dia lebih menyerupai politisi dibanding jaksa profesional," kata Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasani, di kantornya, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin, (12/12).


Salah satunya terkait penanganan kasus Dahlan Iskan. Dalam amatannya, mantan BUMN tersebut bolak-balik diperkarakan oleh Kejaksaan.

"Saya tidak ingin menduga-duga, tapi memang dia tidak ada prestasinya. Penanganan kasus besar cenderung dipolitisisasi," kata Ismail lagi.

Contoh lainnya, merujuk penanganan kasus Setya Novanto "papa minta saham" yang hingga kini menguap tanpa jejak. Kejaksaan bekerja tidak akuntabel dalam kasus ini, memulai proses pemeriksaan, namun kemudian tanpa pertanggungjawaban.

"Kasus ini enggak tahu progresnya sampai mana," imbuhnya.

Namun yang paling menjadi sorotan Setara adalah soal penanganan kejahatan HAM masa lalu, terutama kasus penculikan. Jaksa Agung memiliki wewenang mengusulkan adanya peradilan HAM, tapi Prasetyo bahkan tidak pernah menyatakan bahwa kasus penculikan di P-21 untuk layak dilakukan penyidikan.

Selain itu, hukuman mati, juga menjadi catatan kelam Prasetyo. Sebagai Jaksa Agung, Prasetyo menjalankan banyak hukuman mati di rezim Jokowi, dan melakukannya dengan kontroversial. Padahal di masa rezim SBY, eksekusi mati dimoratorium.

"Eksekusi mati itu pelanggaran kemanusiaan yang fundamental. Sayangnya moratorium ini tidak dilanjutkan Jokowi," demikian Ismail.[zul]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ketua MPR Bicara Islam dan Kemajuan di Forum Mufti Dunia

Jumat, 12 Juni 2026 | 20:15

Cara Reaktivasi MyPertamina agar QR Code Aktif Lagi, Bisa Lewat Website dan Aplikasi

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:57

Dua Akses Stasiun MRT Dukuh Atas Ditutup Imbas Demo

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:54

Sinopsis Backrooms, Film Horor Adaptasi Serial YouTube yang Pecahkan Rekor Box Office

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:44

Demonstran Depan UOB

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:39

Palsukan Tanda Tangan, Bendahara BUMDes Diduga Korupsi Rp1,6 Miliar

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:35

KPK Didesak Naikkan Status Pejabat DJBC Ahmad Dedi ke Penyidikan

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:32

BRI Gelontorkan Dana Rp500 Miliar untuk Buyback Saham

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:14

Jadwal Lengkap Fase Grup Piala Dunia 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:13

PDIP Diminta Tertibkan Kader Diduga Terlibat Program MBG

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:47

Selengkapnya