Berita

BRA Mooryati Soedibyo/Net

Wawancara

WAWANCARA

BRA Mooryati Soedibyo: Apapun Motif Politiknya, Semua Sungguh Tak Bernilai Bila Taruhannya Kesatuan Bangsa

KAMIS, 01 DESEMBER 2016 | 08:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Publik cemas menanti aksi unjuk rasa lanjutan pada 2 Desember besok. Situasi kadung panas setelah Pemerin­tah dan Polri rajin mengabarkan adanya dugaan agenda makar di balik aksi 212 tersebut.

Menurut BRA Mooryati Soedibyo, situasi telah diredam sedini mungkin oleh Presiden Joko Widodo dengan usaha pendekatan pada para tokoh terkait. Berikut penuturan BRA Mooryati Soedibyo terkait aksi 212;

Menurut anda, situasi nasional belakangan ini ba­gaimana?
Saya tidak terlalu mengikuti aktivitas politik. Hanya saja saya mengamati dan mengingatkan, kerukunan dan keutuhan bangsa di atas segala-galanya. Semua pihak, sebaiknya menahan diri dan berpikir jernih. Berdasarkan sopan, santun secara kerohanian dan saling menghargai dalam menyampaikan keinginannya. Tidak perlu menggerakkan massa dari berbagai provinsi. Apapun motif, politisasi dan segala sesuatu yang berkembang belakangan ini sungguh tidak bernilai bila taruhannya kesatuan bangsa dan negara. Sebetulnya semua bisa disampaikan oleh pimpinannya secara pribadi ke­pada Presiden. Ini lebih sportif, elegan tanpa tujuan lain,” cetus Mantan Wakil Ketua MPR ini kepada Rakyat Merdeka.

Saya tidak terlalu mengikuti aktivitas politik. Hanya saja saya mengamati dan mengingatkan, kerukunan dan keutuhan bangsa di atas segala-galanya. Semua pihak, sebaiknya menahan diri dan berpikir jernih. Berdasarkan sopan, santun secara kerohanian dan saling menghargai dalam menyampaikan keinginannya. Tidak perlu menggerakkan massa dari berbagai provinsi. Apapun motif, politisasi dan segala sesuatu yang berkembang belakangan ini sungguh tidak bernilai bila taruhannya kesatuan bangsa dan negara. Sebetulnya semua bisa disampaikan oleh pimpinannya secara pribadi ke­pada Presiden. Ini lebih sportif, elegan tanpa tujuan lain,” cetus Mantan Wakil Ketua MPR ini kepada Rakyat Merdeka.

Sebagai orang yang dikenal dekat dengan Presiden, tang­gapan anda?
Saya tidak berpolitik. Sekarang hanya mengabdikan diri memberikan pengetahuan, pen­galaman dan masukan yang bersifat akademis, bisnis, sosial dan budaya. Ini saja saya baru kurang sehat, karena kelelahan kesana-kemari ikut kegiatan dan undangan. Namun saya kira, kita harus senantiasa ber­doa dan mendukung semua langkah serta kebijakan yang diambil oleh Bapak Jokowi demi kepentingan bangsa dan neg­ara. Sesungguhnya, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama telah minta maaf atas kekeliruan un­gkapannya yang tidak disengaja. Sebagai rasa tenggang rasa mestinya sudah dianggap se­lesai. Sebaiknya kita semua berhati dingin, berpikir positif tanpa memperkeruh situasi dan kondisi saat ini. Jangan daerah-daerah lain menjadi tidak stabil karena masalah yang terjadi di Jakarta.

Apa makna Bhinneka Tunggal Ika menurut anda?
Kalimat Bhinneka Tunggal Ika itu dilanjutkan dengan kalimat Tan Hana Dharma Mangrwa. Kalau dijadikan satu kalimat artinya berbeda-beda, tetapi tetap satu. Semboyan ini digu­nakan untuk menggambarkan negara pluralisme yang terdiri atas keberanekaan ragam bu­daya, ras, suku, bahasa dan agama. Nilai luhur ini sudah menjadi keputusan konstitusi NKRI, sangat mahal harganya kesepakatan dan penyesuaian dengan adat istiadat, budaya. Sejak awal, para pendiri sudah bersepakat bahwa NKRI adalah harga mati. Demonstrasi dija­min oleh undang-undang dalam rangka menyampaikan pendapat masyarakat. Namun unjuk rasa yang dilandasi atau berakhir dengan cara radikal tentu tin­dakan yang tidak sesuai pera­turan hukum kita. Bukan pula sikap kultur dan nurani yang berbudaya dan bermoral dalam persatuan dan kesatuan seluruh suku di wilayah nusantara.

Bagaimana dengan situasi sekarang yang seolah-olah umat Islam dihadapkan den­gan agama lain?
Paham nasionalisme mem­bentuk kesadaran para peme­luknya bahwa loyalitas tidak lagi diberikan pada golongan atau kelompok kecil, seperti agama, ras, etnis, budaya. Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya lebih mementingkan peningkatan ke­bersamaan, gotong royong dan saling menghargai berdasarkan ideologi Pancasila. Menghargai perbedaan agama, suku dan ras tidak saja dalam ucapan, namun melalui kesadaran ke­bersamaan dalam memajukan NKRI. Bhinneka Tunggal Ika sudah menjelaskan secara tegas bagaimana bangsa ini harus bersatu padu dalam perbedaan agar bisa mencapai tujuan pem­bangunan nasional dari Sabang hingga Merauke.

Nasionalisme belakangan dini­lai memudar...
Peran keluarga, berikan pen­didikan sejak dini tentang sikap warga negara Indonesia yang na­sionalisme dan patriotisme, budi pekerti beri tauladan tentang rasa cinta pada bangsa dan tanah air ini melalui pengawasan kepada anak-anak terhadap lingkungan sekitar. Untuk Pemerintah dan kelompok organisasi bisa meng­galakkan seminar dan pameran kebudayaan, sejarah perjuangan pendahulu kita melawan penja­jahan, mewajibkan pemakaian batik pada PNS menghargai produk buatan sendiri dan lebih mendengarkan dan menghargai aspirasi para pemuda yang lebih progresif.

Bentuk nasionalisme apa yang tepat untuk era kekinian sekarang?
Nasionalisme yang diarah­kan untuk mengatasi berbagai permasalahan, bagaimana bisa bersikap jujur, adil, disiplin, berani melawan kesewenang-wenangan, tidak korupsi, toleran. Marilah kita hidupkan lagi nilai budaya terbaik bangsa Indonesia, seperti gotong royong, kebhinekaan, kerukunan, tepa salira atau toleransi di antara kita. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya