Berita

Susi Pudjiastuti/Net

Bisnis

Menteri Susi Tegur Nelayan Bugis

MINGGU, 27 NOVEMBER 2016 | 08:49 WIB | LAPORAN:

Peresmian Pelabuhan Perikanan Untia oleh Presiden Jokowi, kemarin (Sabtu, 26/11), menandai beroperasinya pelabuhan yang terletak di kawasan industri Makassar (KIMAH) dan dekat dengan Pelabuhan Umum untuk ekspor tersebut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, nantinya pelabuhan ini akan mendukung aktifitas nelayan di zona Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 713, yang meliputi Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores dan Laut Bali dan memiliki potensi sumber daya ikan hingga 929.700 ton per tahun.

"Pelabuhan di Paotere sudah padat makanya dipindah ke sini. Ini juga mengantisipasi dari pada perikanan tangkap yang melimpah," ujar Susi seperti dalam rilisi Biro Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan, Minggu, (27/11).


Susi pun memuji kehebatan nelayan asal Sulawesi, khususnya kepada nelayan Bugis Makassar di Sulawesi Selatan. Namun demikian, kehebatan nelayan Bugis-Makassar juga dikenal pakai cara penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Contoh, pengeboman ikan.

Ia berharap mulai sekarang, para nelayan di Sulsel mengubah kebiasan yang tidak baik, karena dapat membahayakan jiwa dan keselamatan nelayan itu sendiri.

Sebelumnya pada kunjungan ke beberapa pulau di Indonesia, Susi sering mendapatkan keluhan masyarakat terkait aksi pengeboman ikan yang dilakukan nelayan Indonesia. Bahkan, perburuan ikan hiu, ikan napoleon sampai ke Australia. Nelayan dari Makassar dan Kendari dikenal penyuplai ikan napoleon ke luar negeri.

"Dalam pemberian bantuan, Sulawesi menjadi penerima bantuan paling banyak. Kenapa? Karena mereka terkenal dengan pelaut-pelaut handal. Sampai ke Jayapura, NTT. Tapi saya mohon, mulai hari ini jangan ada yang ngebom pake bius lagi ya," lanjutnya.

Susi juga menjelaskan bahwa program asuransi bagi para nelayan bagian dari visi pemerintah yang hendak meningkatkan sektor kelautan dan perikanan nasional. Ini bukti komitmen pemerintah sesuai dengan UU Perikanan untuk melindungi para nelayan.

 "Kehidupan nelayan rentan kalau kepala keluarganya terjadi apa-apa. Negara harus hadir, wajib hadir," tegas Susi.

Pada kesempatan tersebut, Susi memberikan bantuan asuransi secara simbolis untuk 10 ribu di Sulsel. Dengan rincian jaminan sebesar Rp 200 juta bagi keluarga nelayan yang meninggal saat berada di lautan, Rp 160 juta yang mengalami kecelakaan kerja, Rp. 80 juta cacat, serta Rp 20 juta sebagai plafon untuk pengobatan.

"Asuransi sebagai perlindungan nelayan dan juga sesuai dengan keinginan pemerintah untuk meningkatkan industri dan jumlah dari sektor perikanan," ujarnya.

Di samping itu juga diberikan bantuan berupa lima unit kapal penangkap ikan 3 Gross Tonnage (GT) senilai 768.245.000 rupiah dan beberapa jenis bantuan bagi para nelayan lainnya. Dalam peresmian tersebut, Susi juga mengundang investor luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia.

Investor Rusia, Blackspace Resources, sudah berminat untuk membangun unit pengolahan dan cold storage berkapasitas 300 ton di sini,” pungkas Susi.[wid]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya