Berita

Jokowi/Net

Politik

Sikap Tegas Jokowi Kepada Myanmar Sangat Ditunggu

Kalau Dicuekin, Usir Kedubes Myanmar
KAMIS, 24 NOVEMBER 2016 | 11:28 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Presiden Jokowi seharusnya sudah menyatakan sikap tegas kepada Pemerintah Myanmar terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar. Tragedi ini sudah menuai kecaman dan keperihatinan dari masyarakat internasional, tidak terkecuali masyarakat Indonesia.

Demikian disampaikan pegiat advokasi Rohingya di Indonesia, yang juga advokat yang tergabung dalam Solidarity Network for Human Rights (SNH) Advocacy Center, Heri Aryanto, Kamis (24/11).

Heri mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan terhadap Rohingya telah berlangsung lama. "Rohingya telah diperlakukan tidak manusiawi selama berdekade-dekade lamanya, tetapi sengaja dibiarkan," tegasnya.


Pemerintah Myanmar dan kelompok penduduk mayoritas Myanmar di bawah kendali Gerakan 969, dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan ini. Mereka membunuh anak-anak Rohingya yang tidak berdosa secara keji, begitupun perempuan dan laki-laki Rohingya dibunuh dengan cara biadad seperti hewan, rumah-rumah mereka dihancurkan, dan tempat ibadah pun dimusnahkan.

"Ini bukan kejahatan biasa, ini kejahatan genosida yang sistematis, namun kondisi ini sengaja dibiarkan untuk berbagai kepentingan," ujar Heri dalam keterangannya.

Ia pun meminta Presiden Jokowi agar bersikap tegas mendukung langkah-langkah penyelesaian dan perlindungan terhadap etnis Rohingya sebagaimana sikap tegasnya mendukung bangsa Palestina. Begitu juga diharapkan sikap tegasnya mengutuk kejahatan genosida di Myanmar seperti sikap tegasnya mengutuk kejahatan Bom Perancis.

Sikap tegas Presiden Jokowi kepada Myanmar sangat ditunggu. JIka Myanmar tidak bergeming, langkah terbaik adalah memulangkan Kedubes Myanmar kembali ke negaranya.

"Kalau Presiden Jokowi tidak didengar, usir Kedubes Myanmar dari Indonesia," tukas Heri. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ketua MPR Bicara Islam dan Kemajuan di Forum Mufti Dunia

Jumat, 12 Juni 2026 | 20:15

Cara Reaktivasi MyPertamina agar QR Code Aktif Lagi, Bisa Lewat Website dan Aplikasi

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:57

Dua Akses Stasiun MRT Dukuh Atas Ditutup Imbas Demo

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:54

Sinopsis Backrooms, Film Horor Adaptasi Serial YouTube yang Pecahkan Rekor Box Office

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:44

Demonstran Depan UOB

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:39

Palsukan Tanda Tangan, Bendahara BUMDes Diduga Korupsi Rp1,6 Miliar

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:35

KPK Didesak Naikkan Status Pejabat DJBC Ahmad Dedi ke Penyidikan

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:32

BRI Gelontorkan Dana Rp500 Miliar untuk Buyback Saham

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:14

Jadwal Lengkap Fase Grup Piala Dunia 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:13

PDIP Diminta Tertibkan Kader Diduga Terlibat Program MBG

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:47

Selengkapnya