Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Info Intelijen Jangan Dilempar Ke Publik, Tangkap Kalau Ada Yang Makar

RABU, 23 NOVEMBER 2016 | 10:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Presiden Joko Widodo dan aparatur penegak hukum diminta untuk mengambil tindakan bila ada upaya makar penggulingan pemerintahan. Upaya penggunaan kekuatan bersenjata aktif untuk merubuhkan kekuasaan sebagaimana definisi makar, adalah skenario terakhir yang mungkin terjadi di era demokrasi, yang mensyaratkan dukungan rakyat.

"Sebaiknya Presiden Jokowi diam-diam perintahkan Kapolri dan Panglima TNI untuk ambil tindakan tegas, cepat, terukur dan senyap untuk sapu bersih dan tangkap bila ada bukti-bukti valid upaya makar dari pihak tertentu. Info intelijen yang sumir jangan dilempar ke publik menambah kegaduhan, yang berimbas ke dunia ekonomi Indonesia," ujar Jurubicara Jaringan '98 Ricky Tamba, Rabu (23/11).

Terkait rencana aksi 25 November dan 2 Desember 2016, Jaringan '98 mendukung gerakan rakyat dan ummat Islam menuntut pemenjaraan tersangka Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atas sangkaan pidana penistaan agama Islam.


"Aksi massa damai terpimpin itu senjata efektif rakyat yang resah atas sebuah kebijakan atau tindakan yang dianggap merugikan dan menghina sejak dari zaman kerajaan. Pemimpin seharusnya legowo dan lilo bila rakyatnya melakukan kritik dan protes. Aksi mendatang semoga didengar oleh Presiden Jokowi, agar situasi kembali kondusif," terang Ricky.

Secara khusus, dia meminta agar Presiden Jokowi semakin selektif dengarkan masukan dan saran, serta evaluasi kinerja Kabinet Kerja di tengah kondisi riil ekonomi masyarakat yang kian terpuruk.

"Eling lan waspada, banyak musuh dalam selimut demi kepentingan pribadi dan kelompok, termasuk pesanan asing nekolim neoliberalisme penjajah NKRI tercinta. Tak guna banyak elite dan partai di Istana, bila ternyata dukungannya semu, tak mampu bantu Presiden penuhi ekspektasi rakyat. Bersihkan Istana dari pembisik ngaco!" pungkas Ricky Tamba seperti dalam rilisnya. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya