Berita

Muhammad Prasetyo/Net

Hukum

Jaksa Agung Di Awal Doang Bergigi, Seterusnya Seperti Macan Ompong

Rapor Merah Dua Tahun Kinerja Prasetyo
RABU, 23 NOVEMBER 2016 | 08:36 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Publik media sosial kembali menyoroti dua tahun kinerja Jaksa Agung Muhammad Prasetyo yang dinilai mengecewakan. Ban­yak pihak memberi rapor merah terhadap kinerja politisi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) ini.
 
Indonesia Corruption Watch (ICW) telah mengeluarkan rilis tentang penilian kinerja Kejaksaan Agung (Kejagung) selama dua tahun dipimpin Prasetyo. ICW memberikan rapor merah kepa­da Kejaksaan Agung (Kejagung). Selama dua tahun kepemimpinan Prasetyo, Kejagung hanya sedikit menyelesaikan kasus korupsi.

Direktur Eksekutif Indonesia Justice Watch, Akbar Hidayatullah, juga berpendapat sama. Dia menyoroti reformasi birokrasi Kejaksaan yang tidak sesuai harapan. Kata Akbar, sistem rekrutmen, pendidikan, mu­tasi dan promosi pejabat di Korps Adhyaksa tidak memiliki tolok ukur yang jelas.


"Tentu saja hal ini berpengaruh dari kualitas kinerja kejaksaan secara keseluruhan," ujar Akbar Hidayatullah.

Hal itu, kata dia, terlihat dari adanya pengusulan pemecatan sejumlah jaksa berprestasi. Dia ber­pendapat, hal itu terjadi karena figur Muhammad Prasetyo yang berlatar belakang politisi.

Menurut dia, banyak sumber daya manusia potensial, yang se­harusnya dapat berkontribusi bagi organisasi Kejaksaan. Akan tetapi, kata dia, SDM yang potensial itu tidak didukung promosi dan mutasi di lingkungan Kejaksaan. Hal itu, kata dia, menjadi bukti merit system belum transparan dan terukur secara objektif.

Akbar juga menyesalkan sikap Jaksa Agung Muhammad Prasetyo yang seolah alergi terhadap kritik mengenai catatan buruk kinerjanya selama dua tahun. Padahal, lanjut dia, kritik merupakan masukan positif bagi Kejaksaan.

"Jika dikritik rakyat saja tidak mau, dan justru bersikap melindungi diri sendiri, lalu sebenarnya Jaksa Agung ini bekerja untuk siapa? Sangat lah wajar bila tingkat keper­cayaan rakyat terhadap Pemerintah Jokowi akan terpengaruh. Ingat suara LSM adalah suara masyarakat juga," tandasnya.

Sementara itu, pada media sosial Twitter, netizen juga menyoroti kinerja Jaksa Agung.

Misalnya, akun @mtmuis bilang, kinerja bagus Jaksa Agung M Prasetyo hanya terlihat ketika baru dilantik. Setelah itu, kinerjanya ter­lihat melempem. "Pak Jaksa Agung cuma di awal doang agak bergigi, seterusnya cuma melempen dan macan ompong doaaangggg. Nol besar," cuitnya.

Akun @hatisenang23 minta Presiden mengganti Jaksa Agung. Dia menyarankan Presiden menjadikan bekas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar, menjadi Jaksa Agung, "Antasari azhar aja jadi Jaksa Agung."

Akun @laskarhati mengaku tidak kaget Jaksa Agung terus mendapat sorotan publik. Apalagi, Jaksa Agung saat ini berasal dari partai politik. "Jaksa Agaung dari Partai Nasdem sih, ada-ada aja," sesalnya.

Akun @mattarawu menambahkan, memilih Jaksa Agung berlatarbelakang politisi, maka kualitasnya tidak sebaik dibanding berlatarbe­lakang profesional, "Politikus mah tidak ada yang jujur bang."

Akun @herrywiryono menjelas­kan, salah satu penilaian buruk terhadap Jaksa Agung yaitu tuntu­tan ringan dalam perkara korupsi. "Masyarakat sudah bisa menilai, bandingkan tuntutan jaksa KPK terhadap koruptor dengan jaksa Kejaksaan Agung. Ingat, Allah SWT Maha Mengetahui apa yang diperbuat hamba," cuitnya.

Akun @rakhmatefendi67 me­nyebutkan, pemberian rapor merah terhadap kinerja Jaksa Agung sangat wajar, "Raport lebih merah kali seharusnya."

Akun @mugeratax menilai, Jaksa Agung M Prasetyo cenderung berpihak kepada rekan politiknya. Namun, tajam kepada lawan politik. "Jaksa kali ini kan spesial lawan-lawan politik dan target politik. Yang dekat dengan kekuasaan mana disentuh," nilainya.

Ada juga netizen yang berharap Jaksa Agung M Prasetyo menyam­paikan respons terhadap penilaian publik atas kinerjanya. "Ditunggu tangapannya Kejaksaaan. Any way make sense kok raportnya merah seperti alasan-alasan yang disampai­kan ICW," kata akun @153ng.

Sebelumnya, ICW menganggap kinerja Kejaksaan Agung selama dua tahun di bawah kepemimpinan Prasetyo, belum memuaskan. Pada tahun pertama, ICW juga mengkri­tik Kejaksaan Agung dengan nilai yang sama.

Dalam pantauan ICW, dua tahun terakhir Kejaksaan Agung menangani 24 kasus korupsi dengan melibatkan 79 tersangka dan menimbulkan keru­gian negara Rp 1,5 triliun.

Dari 24 kasus itu, sekitar 67 persen atau 16 kasus korupsi masih di tingkat penyidikan. Sedangkan kasus korupsi yang naik ke penun­tutan hanya sekitar 33 persen. Tak sedikit kasus yang dihentikan di tingkat penyidikan.

Selain itu, ICW juga menganggap tuntutan hukuman untuk koruptor masih ringan, sehingga hukuman yang dijatuhkan hakim pun lebih rendah daripada tuntutan. Kemudian, kualitas sumber daya manusia yang rendah. Masih banyak jaksa yang ditangkap karena melakukan pe­merasan kepada terdakwa ataupun menerima suap.

Jaksa Agung M Prasetyo me­nanggapi dingin saat diminta war­tawan merespons penilaian ICW. Menurut dia, ICW tidak mema­hami apa yang terjadi di internal Kejaksaan dan apa saja target yang sudah dicapai. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Jepang Akui Otonomi Sahara Solusi Paling Realistis

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:21

Pencanangan HUT Jakarta Bawa Mimpi Besar Jadi Kota Global

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:02

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah Jadi 4 Kategori, Ini Daftarnya

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:40

Kritik Amien Rais Dinilai Bermuatan Panggung Politik

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30

Pramono Optimistis Persija Menang Lawan Persib

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:18

Putin Klaim Perang Ukraina Segera Berakhir, Siap Temui Zelensky untuk Damai

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:10

JK Negarawan, Pemersatu Bangsa, dan Arsitek Perdamaian Nasional yang Patut Dihormati

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:48

BMKG-BNPB Lakukan OMC Kendalikan Potensi Karhutla di Sumsel

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:41

Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Tanpa Sepengetahuan Irak

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:23

KPK Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Anggota BPK Haerul Saleh

Minggu, 10 Mei 2026 | 09:44

Selengkapnya