Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

AKSI 212

Gerindra: Justru Tuduhan Makar Membuat Suasana Tidak Kondusif

SELASA, 22 NOVEMBER 2016 | 07:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Para ulama yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) sepakat menggelar Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016 "Aksi 212".

Namun aksi kali ini bukan demonstrasi seperti jilid I dan II, melainkan acara Salat Jumat sepanjang Jalan Sudirman hingga Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Dalam aksi bertajuk "Tegakkan Hukum Terhadap Penista Agama dan Pelindungnya" ini juga beragendakan istighotsah, doa untuk negeri, salawat hingga dzikir bersama.

Aksi digelar lantaran Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri, tidak ditahan dan masih bebas berkeliaran.


Belakangan, pemerintah menuding Aksi 212 mempunyai tujuan terselubung, yaitu diduga ingin berupaya menjatuhkan pemerintah alias gerakan makar.


Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono tidak sependapat dengan tudingan itu. Diketahui, Partai Gerindra adalah parpol oposisi di luar pemerintah.

"Jangan fitnah sembarangan kalau Aksi 212 itu adalah makar. Justru tuduhan makar membuat suasana tidak kondusif," ujar Arief, Selasa (22/11).

Menurutnya, Aksi 212 hanya sebuah gerakan moral yang ditujukan kepada aparat hukum. Agar hukum diberlakukan sama kepada warga negara yang diduga telah menista agama.

Karena, sudah ada yurisprudensi bagi orang yang diduga menista agama, yaitu ditahan sebelum diadili di Meja hijau.

"Jadi janganlah gerakan Aksi 212 ini dituduh-tuduh sebagai gerakan makar oleh Kapolri. Justru Kapolri sebaiknya mengajak bicara kepada pimpinan-pimpinan umat Islam yang akan melakukan gerakan Aksi 212," kata Arief.

Misalnya, lanjut Arief, Kapolri meminta mereka untuk tidak lagi turun ke jalan, tetapi cukup mengirimkan delegasinya masing-masing ke Mabes Polri untuk meminta keterangan resmi kenapa Ahok tidak ditahan. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya