Berita

Mahyudin/RMOL

Pimpinan MPR: Pemberantasan Korupsi Hampir Berjalan Di Tempat

SELASA, 22 NOVEMBER 2016 | 06:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Salah satu tuntutan reformasi adalah pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) serta pemerintahan yang bersih. Namun setelah reformasi berlangsung 17 tahun, praktik KKN masih saja berlangsung.

"Pemberantasan korupsi hampir berjalan di tempat," kata Wakil Ketua MPR RI Mahyudin saat menjadi pembicara dalam sosialisasi Empat Pilar MPR dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi se Dunia dengan tema 'Komitmen Pemimpin dalam Pemberantasan Korupsi" di Aula Kantor Walikota Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin malam (21/11). Sosialisasi ini merupakan kerja sama MPR dengan Forum Masyarakat Anti Korupsi (Formak) Kaltim.

Mahyudin menjelaskan korupsi yang marak terkait juga dengan demokrasi politik. Sesungguhnya demokrasi bisa berjalan baik di negara-negara maju yang pendapatan per kapita penduduknya sudah tinggi. Negara-negara maju seperti di Eropa atau Amerika pendapatan per kapita penduduknya sudah 40 ribu dolar AS. Sedangkan pendapatan per kapita Indonesia baru 45 juta per tahun.


"Itu pun masih terjadi kesenjangan di Indonesia yang tajam ditandai dengan indeks gini ratio 0,42. Artinya terjadi jurang antara mereka yang kaya dan miskin," jelas Mahyudin.

Dimana keterkaitannya demokrasi dan korupsi? Mahyudin mencontohkan kalau di AS karena warganya kaya maka calon presiden disumbang (donasi dari konstituen), tetapi di Indonesia calon kepala daerah harus mengeluarkan uang untuk konstituennya.

"Karena beratnya pada saat pencalonan itulah kepala daerah (pemimpin) tersangkut korupsi. Jadi komitmen tidak melakukan korupsi tinggal komitmen," ujarnya.

Mengapa banyak kepala daerah dan anggota dewan tertangkap KPK? "Karena biaya politik yang besar. Ini adalah dampak dari sistem pemilihan langsung. Sebenarnya kita tidak siap dengan demokrasi (pemilihan) langsung karena biayanya besar," ucap Mahyudin.

Selain biaya politik yang besar, kata Mahyudin, korupsi juga disebabkan karena gaya hidup hedonisme.

"Gaya hidup hedonisme ini membuat banyak pemimpin dan penyelenggara negara tersangkut korupsi," ujar politisi Partai Golkar ini. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya