Berita

Mahyudin/Humas MPR

Mahyudin: Apa Urusannya Ahok Dibawa-bawa Untuk Makzulkan Presiden

SABTU, 19 NOVEMBER 2016 | 13:44 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Wakil Ketua MPR RI Mahyudin membuka sekaligus memberikan materi Sosialisasi Empat Pilar MPR di Desa Sepaso Timur, Kecamatan Bungalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sabtu (19/11). Sekitar 200 peserta antusias mengikuti acara ini. Mereka adalah para tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kepemudaan, dan lainnya.

Bersama Mahyudin hadir juga Anggota MPR kelompok DPD Sofyan Hadi, Wakil Bupati Kutai Timur Kasmidi Bulang beserta anggota Forkompimda Kabupaten Kutai Timur, serta beberapa anggota DPRD Kabupaten Kutai Timur.

Dalam sambutannya, Mahyudin menjelaskan secara runut fungsi dan kewenangan MPR sebagai lembaga yang memiliki kewenangan tertinggi di antara lembaga negara lainnya. Salah satu tugas dan wewenang MPR yang tidak bisa dilakukan lembaga-lembaga negara yang setara adalah memberhentikan Presiden.


"Satu-satunya lembaga negara yang bisa memberhentikan Presiden adalah MPR," jelas mantan Bupati Kutai Timur ini dalam rilis Humas MPR.

Tapi untuk memberhentikan Presiden tidak mudah. Presiden bisa diberhentikan, menurut Mahyudin, apabila Presiden malanggar hukum, korupsi, dan membahayakan negara. Makanya ketika di Jakarta terjadi demo besar-besaran, 4 November lalu, sempat beredar isu mau mendatangi MPR dengan tujuan ingin menjatuhkan Presiden gara-gara Ahok.

"Ketika ada kontak saya, apakah MPR mau terima mereka, saya bilang nggak ada itu. Kalau ada demo yang ingin menjatuhkan Presiden, saya nggak akan terima. Karena tidak ada dasar hukumnya," ujar Mahyudin.

Untuk memberhentikan Presiden, jelas Mahyudin, diatur oleh konstitusi. "Apa urusannya Ahok atau Pilgub DKI Jakarta dibawa-bawa ke urusan menjatuhkan Presiden. Nggak nyambung," kata politisi partai Golkar dari pemilihan Kalimantan Timur ini.  

Tapi anehnya, kata Mahyudin, ada saja yang berharap bisa menjadi Presiden. "Kalau mau jadi Presiden harus mengikuti ketentuan konstitusi. Nanti ikut bertarung di Pilpres 2019," kata putera daerah yang dibesarkan dan memulai karier di Kutai Timur ini.

Maka, kata Mahyudin lebih lanjut, jangan pernah berfikir menjatuhkan Presiden tanda dasar. Kalau itu terjadi bisa chaos. Kalau terjadi chaos yang korban bukannya politikus, tapi rakyat Indonesia secara keseluruhan yang menjadi korban.

Mahyudin pun mengajak pesera diskusi untuk belajar pada negara-negara di Timur Tengah, seperti Suriah atau Irak yang dulu  dikenal dengan sebutan negeri Seribu Satu Malam dengan segala kemakmurannya. Kini negara itu porak poranda karena perang saudara. "Kalau sudah perang saudara jangankan untuk mencari beras, hidup saja susah," ucap Mahyudin.

Oleh karena itu, menurut Mahyudin, Indonesia yang damai ini harus dijaga dan dibela. "Yang harus kita kerjakan bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat Indonesia, menyiapkan fasilitas kesehatan, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, dan menyiapkan ekonomi mereka agar lebih baik," ujarnya.

Jadi, tegas Mahyudin, lupakan politik praktis yang bisa menyusahkan masyarakat. "Masyarakat harus pintar jangan mau dihasut oleh politikus yang hanyak mementingkan kelompok tertentu, tapi merugikan kepentingan orang banyak," harap Mahyudin. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya