Berita

Politik

Rekapitulasi Suara Secara Berjenjang Rawan Dimanipulasi

JUMAT, 18 NOVEMBER 2016 | 06:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Anggota Komisi II DPR Muchtar Luthfi A. Mutty menilai ketentuan yang mengatur proses penghitungan dan rekapitulasi hasil perolehan suara secara berjenjang syarat akan kerawanan.

Luthfi mengatakan, semakin sering terjadi perpindahan kotak suara dalam proses rekapitulasi berjenjang, semakin tinggi pula tingkat kerawanan manipulasi perolehan suara yang muncul.

"Fakta menunjukkan setiap kali ada mutasi perhitungan suara, di situ terjadi kerawanan. Di TPS (Tempat Pemungutan Suara) dihitung, mutasi di desa dihitung lagi, di kecamatan dihitung lagi, di kabupaten dihitung lagi, di provinsi dihitung lagi. Maka di setiap termin penghitungan ini rawan terjadi manipulasi," kata Luthfi dalam Rapat Koordinasi Regional Pembinaan dan Penyusunan Laporan Keuangan Anggaran Dana Hibah Pilkada Serentak 2017 oleh KPU, Kamis (17/11).


Untuk mengatasi persoalan itu, Luthfi akan mengusulkan kepada panitia khusus (pansus) pembahasan rancangan undang-undang (RUU) pemilu untuk melakukan penghitungan suara secara elektronik.

"Kesimpulan saya mungkin tidak perlu kita melakukan pemilihan dengan pencoblosan atau e-voting. Jauh lebih penting kalau kita melakukan penghitungan suara dengan elektronik. Karena sepanjang yang saya ketahui tidak pernah ada persoalan pada saat pencoblosan. Persoalan yang timbul ketika perhitungan suara. Apalagi kalau penghitungan suaranya berjenjang, Supaya tidak terjadi kerawanan, menurut saya langsung dilakukan penghitungan secara elektronik di TPS sehingga tidak ada lagi penghitungan perjenjangan," lanjut politisi Nasdem ini.

Luthfi secara khusus memuji proses scanning formulir C1 yang sudah menjadi kebijakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sejak pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2014. Menurutnya prestasi tersebut patut dipertahankan.

"Salah satu prestasi yang patut kita acungi jempol dari KPU yang ada sekarang ini adalah ketika hasil pileg (pemilihan legislatif) yang lalu itu dilakukan scanning C1. Saya kira ini catatan penting yang harus kita pertahankan," tukasnya. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya