Berita

Agus Rahardjo/Net

Politik

Ketua KPK Kirim Tim Ke Singapura Usut Kasus e-KTP

KAMIS, 17 NOVEMBER 2016 | 14:24 WIB | LAPORAN:

. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mengirim tim penyidik ke Singapura dan bekerja sama dengan lembaga antikorupsi negeri jiran itu atau Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB).

Ini dilakukan dalam rangka mengusut kasus dugaan korupsi proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) berbasis elektronik atau e-KTP.

"Kita kerja sama dengan CPIB hari-hari ini. Sehari dua hari lagi ada penyidik kita yang pergi ke Singapura," kata Agus usai membuka International Business Integrity Conference (IBIC) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (17/11).


Agus mengungkapkan, terdapat sejumlah pihak yang akan diperiksa penyidik di Singapura. Meski tidak menyebut secara rinci, Agus menyatakan di Singapura terdapat pejabat perusahaan konsorsium Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) yang memenangkan tender proyek e-KTP tahun 2011-2012 yang menelan anggaran senilai Rp 5,9 triliun.

"Bukan (usut aliran uang). Di Singapura itu (ada) pelaku pada waktu itu yang ikut konsorsium. Anggota konsorsium pergi ke sana, mudah-mudahan kita bisa lakukan pemeriksaan juga," ungkap Agus

Agus menyatakan, pemeriksaan terhadap pejabat perusahaan anggota konsorsium Perum PNRI ini dilakukan untuk menelusuri aliran uang hasil korupsi proyek e-KTP.

Agus membeberkan dengan kerugian keuangan negara yang ditaksir mencapai Rp 2,3 triliun terdapat pihak-pihak lain yang terlibat kasus ini. Sejauh ini KPK baru menetapkan mantan Direktur Pengelola Informasi dan Administrasi Kependudukan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil Kemdagri) Sugiharto, dan mantan Dirjen Dukcapil Kemdagri, Irman sebagai tersangka.

"Kemungkinannya ada (keterlibatan pihak lain).  Seperti yang saya bilang di banyak kesempatan, kalau kemungkinan kerugian negara Rp 2,3 triliun kan boleh dipastikan yang bertanggung jawab lebih dari dua orang (Sugiharto dan Irman)," pungkas Agus

Sebagaimana diberitakan, KPK tengah menelusuri aliran uang konsorsium pimpinan PNRI yang memenangkan tender proyek e-KTP. Hal ini lantaran pemerintah telah membayar lunas anggaran proyek e-KTP senilai Rp 5,9 triliun kepada konsorsium yang terdiri dari Perum PNRI, PT Sucofindo (Persero), PT LEN Industri (Persero), PT Quadra Solution dan PT Sandipala Athaput tersebut.

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata menyatakan, dari audit yang dilakukan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terdapat kerugian negara sekitar Rp 2,3 triliun. Kerugian itu diduga terjadi lantaran adanya pihak yang meninggikan harga. Untuk itu, dalam mengusut pihak-pihak yang diuntungkan dengan mark up tersebut dapat diusut dengan menelusuri aliran dana dari konsorsium pemenang tender yang mendapat dana dari pemerintah. [ysa]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya