Berita

Donald Trump/Net

Bisnis

BPS Waswas Miliaran Dolar Ekspor RI Bakal Terganggu

Bila Trump Terapkan Kebijakan Proteksi
RABU, 16 NOVEMBER 2016 | 09:44 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Donald Trump efek tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, bila miliader tersebut jadi menerapkan kebijakan proteksi, dampaknya cukup besar terhadap perdagangan kita. Pasalnya, Amerika Serikat (AS) merupakan pangsa utama ekspor Indonesia.
 
Kepala Badan Pusat Statis­tik (BPS), Kecuk Suhariyanto mengungkapkan, sepanjang Januari-Oktober 2016 total nilai ekspor Indonesia sebesar 117,09 miliar dolar AS, dan ekspor non-migas mencapai 106,37 miliar dolar AS.

"AS merupakan pangsa pasar ekspor non-migas terbesar bagi Indonesia. Realisasi nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai 12,89 miliar dolar AS dengan pangsa pasar 12,12 persen. Mudah- mudahan dengan pergantian presiden, tidak akan berpengaruh ke perdagangan Indonesia dan AS," kata Kecuk agak waswas kepada wartawan di Jakarta, kemarin.


Dengan nilai tersebut AS menduduki posisi pertama se­bagai negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Kemudian diikuti Jepang di peringkat kedua dengan nilai ekspor Indonesia 10,67 miliar dolar AS. Dan, di peringkat ketiga China dengan nilai 11,39 miliar dolar AS.

Menurut Kecuk, Indonesia mencatatkan surplus berbisnis dengan AS. Pada bulan Oktober surplus senilai 652,9 juta dolar AS. Total akumulasi surplus dari periode Januari-Oktober 2016 sebesar 6,94 miliar dolar AS. Surplus neraca dagang Indonesia-AS tersebut secara ku­mulatif lebih besar dari realisasi periode yang sama sebelumnya senilai 6,63 miliar dolar AS.

Deputi Bidang Statistik Distri­busi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo optimistis hubungan dagang Indonesia dan AS tidak terganggu pasca Donald Trump memenangkan pemilihan presi­den (pilpres) AS. Menurut Sasito, meskipun Trump menunjuk­kan diri sangat nasionalis, tapi ada yang tidak bisa dipungkiri bahwa Trump adalah seorang pengusaha.

"Saya yakin Trump akan memperhatikan kepentingan bisnis antar negara. Dia juga su­dah sampaikan hubungan antar negara akan saling menghargai dan adil," katanya.

Sasmito menilai, peluang Indonesia meningkatkan ekspor ke AS masih terbuka lebar. Pelaku usaha masih bisa masuk ke pasar Amerika dengan me­nawarkan produk unggulan seperti karet, alas kaki, peralatan hasil industri rumah tangga, in­dustri mekanik, dan lainnya.

Seperti diketahui, dalam kam­panyenya, Trump menyampaikan akan mengurangi impor untuk melindungi dan mendorong per­tumbuhan industri di negaranya, terutama impor dari China. Ke­bijakan tersebut mendapatkan protes dari banyak pelaku pasar karena kebijakan proteksi dinilai akan memperburuk perlambatan ekonomi dunia.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih lembong pede investasi sektor rill tidak ter­ganggu Donald Trump efek.

"Sentimen negatif di pasar keuangan nggak akan pengaruhi iklim investasi," kata Lem­bong.

Oleh karena itu, Lembong menuturkan, pihaknya tidak merevisi target investasi hingga akhir tahun ini yang ditetap­kan sebesar Rp 594,8 triliun. Menurutnya, goncangan per­ekonomian, baik akibat Brexit ataupun hasil pilpres Amerika Serikat, masih dapat dicarikan solusinya.

Lembong mengimbau kepada seluruh pelaku ekonomi, untuk membujuk investor menggelon­torkan modalnya di Indonesia. Dia meyakinkan perekonomian Indonesia saat ini dalam kondisi stabil.

Selain itu. Lembong menga­jak pemerintah daerah (Pemda) untuk mendukung realisasi in­vestasi di Indonesia. Pasalnya, realisasi investasi di Indonesia masih belum merata antara barat dan timur.

Neraca Perdagangan Oktober Naik Tipis

BPS mencatat surplus ne­raca perdagangan Indonesia pada Oktober 2016 sebesar 1,21 miliar dolar AS. Jumlah ini turun sedikit dari realisasi neraca dagang bulan sebelumnya 1,22 miliar dolar AS. Secara kumu­latif, nilai Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Januari-Oktober 2016 mengalami surplus sebesar 6,92 miliar dolar AS.

"Ekspor Indonesia pada Oktober sebesar 12,68 miliar dolar AS. Sedangkan Impor 11,47 miliar Dolar AS," ungkap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto.

Dia menyebutkan nilai ekspor Oktober tersebut meningkat 0,88 persen dibandingkan den­gan bulan sebelumnya sebesar 12,56 miliar dolar AS. Kemu­dian impor Oktober, menurut Kecuk, naik sebesar 1,55 persen bila dibandingkan bulan sebe­lumnya sebesar 11, 92 miliar dolar AS. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya