Berita

Rachmawati Soekarnoputri/Net

Politik

Megawati Jangan Pakai Soekarno To Kill Soekarnoisme

MINGGU, 30 OKTOBER 2016 | 13:29 WIB

Demokrasi liberal yang berlaku di Indonesia saat ini bertolak belakang dengan pernyataan mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Di hadapan publik, Megawati sebelumnya menyatakan soal adanya warga negara yang tidak menerima perbedaan agama dan ras di Indonesia.

Politisi senior Rachmawati Soekarnoputri mengaku bingung dengan pernyataan tersebut. Mengingat, demokrasi Indonesia yang tidak berkeadilan sekarang ini atau lebih kepada free fight liberalism merupakan buah amandemen Undang-Undang Dasar 1945 yang direstui Megawati sendiri saat masih menjadi presiden.

"Tahukah dia bahwa ras yang dia maksud adalah orang-orang yang mendapat keistimewaan hebat dibanding pribumi sendiri," kata Rachmawati kepada redaksi, sesaat lalu, Minggu (30/10).


Dia mencontohkan, pembuatan 17 pulau di Teluk Jakarta untuk hunian eksklusif dan area komersil bagi kelompok masyarakat tertentu yang mampu membeli dengan uang. Sementara, penduduk pribumi yang sudah turun temurun bermukim di kawasan pesisir Jakarta harus tergusur tanpa ampun. Bahkan, yang tidak mendapatkan tempat tinggal pengganti terpaksa mendirikan tenda-tenda darurat.

"Tahukah Mega kalau yang dimaksud ras yang mendapat previlege hidup di apartemen mewah, sementara pribumi hanya di rusunawa," kata Mbak Rachma, begitu sapaan akrabnya.  

Terlebih, dugaan penistaan agama Islam dan Kitab Suci Al Quran juga dilakukan oleh kepala daerah dari keturunan ras tertentu notabene didukung Megawati dengan PDI Perjuangan di Pilkada Serentak 2017 nanti.

"Sementara penghinaan agama juga dilakukan oleh seorang pejabat dengan ras dimaksud Cina/Tionghoa tersebut menyebabkan kemarahan kaum pribumi mayoritas muslim," ujar Rachma.       

Tidak dapat dipahami, lanjutnya, justru pernyataan Megawati seperti orang terkena post power sindrome yang buta dan tuli dengan amanat penderitaan rakyat.

"Demokrasi inikah yang dimaksud, jauh dari rasa keadilan sosial. Megawati introspeksilah, jangan memakai Soekarno to kill Soekarnoisme. Nauzubilahi minzalik," tegas Rachma yang juga pendiri Partai Pelopor. [wah]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya