Berita

Andy William Sinaga/Net

Politik

Pemberantasan Pungli Jangan Sekedar Kosmetika Politik

SABTU, 15 OKTOBER 2016 | 06:18 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Langkah bersih-bersih atas pungutan liar (pungli) yang dilakukan oleh aparat penegak hukum lewat operasi tangkap tangan (OTT) akhir-akhir ini patut diapresiasi. Namun alangkah baiknya langkah tersebut tidak hanya sebagai kosmetika politik oleh pemerintah, tetapi harus menjadi langkah simultan dan serius.

"Menurut saya perilaku pungli yang dilakukan oleh oknum aparatur pemerintah mulai dari yang terendah sampai level pusat sudah bukan merupakan rahasia umum lagi, yang membuat masyarakat seolah-olah pasrah untuk menerimanya," ujar analis ekonomi dan politik dari Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga, Sabtu (15/10).

Sektor-sektor publik seperti pengurusan dan perpanjangan izin usaha, surat izin mengemudi (SIM), surat tanda nomor kendaraan (STNK), pengurusan KIR, pengurusan surat keterangan di tingkat kelurahan/desa, bahkan di sektor pendidikan sangat dirasakan oleh masyarakat.


Oleh karena itu, kata Andy, operasi pemberantasan pungli dan sejenisnya seharusnya setiap saat dilakukan oleh aparat penegak hukum. Bersih-bersih di dalam instansi aparat penegak hukum perlu segera dilakukan, bila perlu dilakukan penilaian objektif oleh lembaga khusus yang menyatakan instansi penegak hukum tersebut zero atas Pungli. Pungli disinyalir penyumbang tingginya invisible cost dalam setiap program percepatan pembangunan nasional.

Andy menambahkan, operasi OTT perlu lebih diarahkan untuk lembaga pelayan publik di daerah-daerah khususnya daerah yang jauh dari ibukota, karena diduga prilaku pungli masih kerap terjadi.

Pemerintah pusat juga perlu melakukan operasi senyap ke berbagai instansi pelayanan publik sebelum melakukan operasi tangkap tangan (OTT).

"Saya berpendapat nominal yang didapat kan dari OTT saat ini, masih sangat kecil, masih banyak dugaan pungli dengan nilai yang cukup besar yang masih ada di masyarakat, tinggal bagaimana kejelian aparat penegak hukum untuk mengungkapnya," tukas Andy. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya