Berita

Alvaro Uribe/Reuters

Dunia

Ini Usulan Mantan Presiden Kolombia Untuk Kesepakatan Damai Dengan FARC

SELASA, 11 OKTOBER 2016 | 12:52 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mantan Presiden Kolombia Alvaro Uribe mengusulkan agar pemimpin kelompok pemberontak FARC kehilangan kebebasan mereka selama setidaknya lima tahun ke depan dan tidak memiliki hak untuk dipilih sebagai bagian dari proses pelaksanaan perjanjian damai.

Hal itu disampaikan Uribe di Bogota awal pekan ini.

Pernyataan tersebut terkait dengan proses damai yang tengah dijalin oleh pemerintah Kolombia dengan pemberontak FARC.


Sebagai informasi, FARC telah melakukan aksi pemberontakan berujung konflik dengan pemerintah Kolombia sejak 52 tahun lalu.

Namun pemerintah Kolombia di bawah kepemimpinan Presiden Juan Manuel Santos sejak dua tahun terakhir gencar mendorong terciptanya kesepakatan damai dengan FARC.

Dengan mediasi dari Havana, Kuba, akhirnya FARC dan pemerintah Kolombia satu suara terkait dengan perdamaian. FARC sepakat untuk melepaskan senjata mereka dengan imbalan imunitas serta hak yang sama bagi para pemberontak FARC dengan warga Kolombia lainnya.

Namun proses perdamaian baru bisa direalisasi setelah dilakukan referendum kepada masyarakat Kolombia, untuk memilih "Si" (Ya) atau "No" (Tidak) terkait dengan perdamaian tersebut.

Referendum yang sejatinya digelar akhir September kemarin terpaksa ditunda karena adanya gelombang kuat kelompok yang menyerukan "No" untuk perdamaian dengan FARC.

Kelompok yang mendukung "No" itu, salah satu pemimpinnya adalah Uribe, yang kini menjabat sebagai senator oposisi Kolombia. Akhirnya referendum ditunda dan negosiasi lebih lanjut dilakukan.

Sebagai tindak lanjut dari negosiasi, Uribe mengusulkan hal tersebut, yakni siapapun yang terbukti bersalah dan terlibat dalam kejahatan perang, termasuk anggota FARC harus kehilangan kebebasan mereka salam sekitar lima hingga delapan tahun.

Uribe juga mengusulkan agar bekas pemimpin serta anggota FARC dilarang memegang jabatan publik yang dipilih oleh masyarakat.

Usulan Uribe agaknya sulit diterima kelompok FARC, mengingat sejak awal proses kesepakatan damai dimulai, FARC telah menegaskan agar para petinggi dan anggota FARC tidak ada yang dibui. Mereka juga menuntut untuk membentuk partai politik.

Di sisi lain, Santos telah menjanjikan 10 kursi kongres sebagai imbalan untuk mengakhiri konflik. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya