Berita

Politik

Ada Jejak Rizal Ramli Di Balik Peningkatan Jumlah Wisman

RABU, 05 OKTOBER 2016 | 00:59 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

BEBERAPA hari lalu (3/10) Biro Pusat Statistik (BPS) meluncurkan data tentang peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Peningkatannya pada Agustus 2016 sebesar 13,19 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari 911,7 ribu kunjungan menjadi 1,03 juta kunjungan.

Adapun secara kumulatif, sejak Januari hingga Agustus 2016, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 7,36 juta kunjungan. Jumlah ini naik 8,39 persen dibandingkan jumlah kunjungan pada periode yang sama tahun 2015 yang berjumlah 6,79 juta kunjungan.

Dalam sebuah wawancara di harian cetak nasional (3/10), Deputi Bidang Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gde Pitana menyatakan, bahwa peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia sebesar dua dijit (13,19 persen) di tengah pertumbuhan rata-rata dunia yang hanya sebesar satu dijit (5 persen) adalah merupakan prestasi yang baik. Pitana meyakini peningkatan ini adalah dampak dari diterapkannya kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) oleh Indonesia setahun terakhir. Keyakinan yang bersumber dari penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO). UNWTO pada 2013 menyebutkan bahwa "kebijakan visa facilitation dapat meningkatkan jumlah kunjungan 5-25 persen di negara-negara G-20".


Seperti diketahui, semenjak Agustus 2015 hingga Agustus 2016 Pemerintah Jokowi telah menerapkan kebijakan BVK secara signifikan. Pada 12 Agustus 2015 Presiden melakukan reshuffle kabinet pertama, memasukkan Rizal Ramli, yang juga penasehat ekonomi di PBB bersama para peraih nobel ke Kabinet. Di Kabinet, Rizal menjabat Menko Maritim dan Sumber Daya yang mengkoordinasikan, mensupervisi, dan mengendalikan sektor pariwisata Indonesia.

September 2015, Presiden Jokowi menetapkan Perpres No 104/2015 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No 69/2015 tentang Bebas Visa Kunjungan. Jumlah negara baru penerima fasilitas BVK meningkat sebanyak 75 negara menjadi total 90 negara. Rizal Ramli kemudian pada 22 Desember 2015 mengadakan Rapat Koordinasi untuk mengevaluasi Kebijakan BVK di kantornya di Gedung BPPT I.

Hasil evaluasi atas kebijakan BVK periode Juni-Agustus 2015 tersebut adalah kebijakan BVK sudah bagus, hanya jumlahnya yang perlu ditingkatkan. Kemudian dari Rakor diputuskan Pemerintah akan menambah sebanyak 84 negara baru ke dalam negara penerima fasilitas BVK tersebut. Sehingga total negara penerima BVK menjadi 174 negara, atau berlipat ganda dari jumlah sebelumnya (90 negara). Meskipun demikian, demi keamanan Negara, Pemerintah tetap tidak memberikan BVK pada negara-negara yang memiliki reputasi sebagai negara eksportir paham radikal dan narkoba.

Saking semangatnya mengawal kebijakan BVK, Rizal Ramli kerap mengadakan sidak ke terminal kedatangan wisman. Seperti yang terjadi pada 25 April 2016 di Bandara Sukarno-Hatta, saat itu Rizal melakukan wawancara beberapa wisman secara acak, ternyata didapati ada wisman yang masih dikenakan biaya saat pengurusan visa.

Seperti biasa, Rizal langsung kepret pihak-pihak pemerintah yang dianggapnya kurang melakukan sosialisasi kebijakan BVK seperti imigrasi, Angkasa Pura, dan Kementerian Perhubungan. Rizal juga saat itu meminta Kemenlu agar lebih aktif melakukan sosialisasi kebijakan BVK ini di negara-negara yang diberikan BVK. Kini, meskipun telah direshuffle akhir Juli 2016 lalu, hasil kepretan sang Radjawali tetap dapat dinikmati oleh Negara dan Rakyat Indonesia. Jumlah Wisman meningkat sebesar 13 persen, hampir tiga kali lipat dari rata-rata dunia. Semoga seiring nanti jumlah ini akan terus bertumbuh. Viva Republica!. [***]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya