Berita

Net

Politik

Tata Kelola Energi Belum Cerminkan Kedaulatan Bangsa

JUMAT, 30 SEPTEMBER 2016 | 19:40 WIB | LAPORAN:

Pemerintah dinilai belum sepenuhnya melaksanakan kedaulatan energi sebagaimana amanat Undang-Undang 22/tentang Minyak dan Gas. Kenyataan saat ini bahwa perusahaan eksplorasi migas yang ada lebih didominasi pemodal asing.
           
Akademisi Universitas Nasional (Unas) Ucuk Darusalam mengatakan, kedaulatan energi nasional merupakan syarat mutlak menuju negara yang maju sebagaimana amanat UUD 1945.

"Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju dan modern selama masih menerapkan tata kelola energi yang tidak membawa manfaat signifikan bagi kemajuan bangsa," ujarnya dalam diskusi bertajuk 'Mewujudkan Kedaulatan Energi Nasional Penguatan Peran Negara Berdaulat' yang diselenggarakan FISIP Unas di Jakarta, Jumat (30/9).


Menurut Ucuk, ketergantungan pada pengelolaan energi nasional dengan investasi asing dalam area minyak, gas, dan mineral. Serta kurang berperannya SKK Migas sebagai wakil negara untuk mewujudkan kedaulatan energi nasional memberikan dampak lemahnya fungsi negara dalam tata kelola energi nasional.

"Hal tersebut sangat kontradiktif dengan maksud UUD 1945 bahwa peran negara dalam penguasaan kekayaan alam mewajibkan penyelenggara negara untuk menguasai sepenuhnya, baik dari sisi teritorial, regulasi, kegiatan hulu dan hilir," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Senior Marketing Sucofindo Dradjat H. Djukahdi menyoroti penurunan produksi migas Indonesia yang kini rata-rata sebesar 783 ribu barel per hari. Sehingga, angka impor migas masih berkisar pada 350 ribu sampai 500 ribu barel per hari.

Penurunan produksi tersebut tidak hanya diakibatkan oleh penurunan aktivitas pengeboran sebagai dampak penurunan harga minyak dunia, namun juga karena semakin tuanya lapangan migas yang ada. Rendahnya aktivitas survey seismic juga menjadi salah satu penyebab rendahnya proven reserve.
‪
"Berdasarkan data SKK Migas sampai paruh pertama tahun ini, aktivitas survey seismic baru mencakup dua kegiatan. Padahal dalam dokumen rencana kerja KKKS ditargetkan mencapai 33 kegiatan. Survey non seismic juga terpuruk dari rencana sebesar 13 kegiatan, realisasinya hanya empat kegiatan," demikian Dradjat. [wah]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya